Namun begitu, di balik ketegasan hukum itu, Gus Yahya rupanya lebih memilih jalan damai. Dia menyebut tetap mengedepankan islah atau rekonsiliasi. Tujuannya jelas, menjaga martabat dan keutuhan jamâiyyah NU. Sikap ini, katanya, sejalan dengan nasihat para kiai sepuh yang disampaikan dalam beberapa pertemuan di pesantren, seperti di Ploso, Kediri dan Tebuireng, Jombang.
Lewat pernyataan sikapnya, dia mengimbau seluruh pengurus dan warga Nahdliyin untuk tetap tenang. Jangan sampai persatuan terkoyak. Dia juga meminta agar sementara waktu instruksi yang mengatasnamakan penjabat ketum PBNU tidak diindahkan dulu. Ini untuk mencegah kebingunan yang lebih luas di tubuh organisasi.
Tak lupa, pesan juga disampaikan kepada pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan. Gus Yahya mengingatkan agar tidak gegabah menindaklanjuti kebijakan dari pihak yang dianggapnya tidak berwenang. Resikonya bisa berujung pada persoalan hukum yang runyam.
Pernyataan sikap yang ditutup dengan doa itu berharap dinamika ini bisa diselesaikan dengan cara yang bermartabat. NU harus tetap menjadi rumah besar bagi persatuan umat, bukan medan pertikaian.
Artikel Terkait
Harga CPO Februari 2026 Naik Tipis, Didorong Antisipasi Imlek dan Ramadan
Menag Lepas 1.620 Petugas Haji ke Arab Saudi, Tongkat Estafet Resmi Beralih
KPK Dalami Perjalanan Luar Negeri dan Penukaran Uang Ridwan Kamil
Dari Kue Basah ke Peyek Koin: Kisah Ibu Murni dan Dukungan yang Mengubah Nasib