Namun begitu, di balik ketegasan hukum itu, Gus Yahya rupanya lebih memilih jalan damai. Dia menyebut tetap mengedepankan islah atau rekonsiliasi. Tujuannya jelas, menjaga martabat dan keutuhan jamâiyyah NU. Sikap ini, katanya, sejalan dengan nasihat para kiai sepuh yang disampaikan dalam beberapa pertemuan di pesantren, seperti di Ploso, Kediri dan Tebuireng, Jombang.
Lewat pernyataan sikapnya, dia mengimbau seluruh pengurus dan warga Nahdliyin untuk tetap tenang. Jangan sampai persatuan terkoyak. Dia juga meminta agar sementara waktu instruksi yang mengatasnamakan penjabat ketum PBNU tidak diindahkan dulu. Ini untuk mencegah kebingunan yang lebih luas di tubuh organisasi.
Tak lupa, pesan juga disampaikan kepada pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan. Gus Yahya mengingatkan agar tidak gegabah menindaklanjuti kebijakan dari pihak yang dianggapnya tidak berwenang. Resikonya bisa berujung pada persoalan hukum yang runyam.
Pernyataan sikap yang ditutup dengan doa itu berharap dinamika ini bisa diselesaikan dengan cara yang bermartabat. NU harus tetap menjadi rumah besar bagi persatuan umat, bukan medan pertikaian.
Artikel Terkait
MUI dan NU Sahkan Pembayaran Zakat Fitrah Secara Digital
Microsoft Ancam Gugat OpenAI dan Amazon Soal Kerja Sama Cloud Rp850 Triliun
BAZNAS Tetapkan Zakat Fitrah Rp50.000 per Jiwa Menjelang Lebaran 2026
Tiket Bus ke Sumatera dan Jawa Naik Daun, Terminal Pulo Gebang Mulai Ramai Pemudik