Uang Tak Lagi Bernilai: Sudan Terjerumus dalam Era Barter Akibat Perang dan Hiperinflasi

- Sabtu, 13 Desember 2025 | 14:30 WIB
Uang Tak Lagi Bernilai: Sudan Terjerumus dalam Era Barter Akibat Perang dan Hiperinflasi

Sudan saat ini berada di titik nadir. Perang saudara yang sudah melanda lebih dari dua tahun tak hanya memakan korban jiwa, tapi juga menghancurkan sendi-sendi perekonomian negara. Hiperinflasi yang tak terkendali kini menjadi kenyataan pahit yang dihadapi warganya setiap hari.

Pemicu utama kekacauan ini adalah nilai tukar pound Sudan yang benar-benar ambruk. Coba bayangkan, sebelum konflik, Anda bisa mendapatkan sekitar 450 pound dengan satu euro. Sekarang? Di pasar gelap yang jadi patokan karena bank-bank sudah tak berfungsi angka itu melonjak gila-gilaan menjadi 3.500 pound per euro. Itu artinya depresiasi lebih dari 800 persen. Sungguh luar biasa.

Dampaknya langsung terasa di pasar. Harga bahan pokok melambung tinggi, tak terkendali. Banyak keluarga terpaksa makan sekali sehari, atau bergantung pada bantuan kemanusiaan yang distribusinya pun terhambat oleh pertempuran sengit.

Namun begitu, masalahnya tak cuma pada nilai uang yang merosot. Sistem perbankan nasional sudah runtuh total. Awal konflik di Khartoum tahun 2023 menjadi awal mula bencana; Bank Sentral dibakar dan diduduki pemberontak hampir dua tahun. Jaringan SWIFT terputus, bank-bank komersial dijarah hingga kosong. Uang tunai pun menghilang dari peredaran.

“Saya tidak memegang uang kertas selama lebih dari 9 bulan,” kisah Ali, seorang PNS di Kota Dilling yang dikepung Pasukan Dukungan Cepat (RSF).

Keadaan itu memaksa masyarakat kembali ke sistem yang paling primitif: barter. Cangkul, kursi, karung jagung, atau sekantong gula kini jadi alat tukar yang lebih berguna daripada tumpukan uang kertas.

Ali pernah menukar cangkul dan kursinya dengan tiga karung sorgum. Kisahnya itu menggambarkan betapa uang telah kehilangan makna.

“Pengemudi ojek dan tuk-tuk sekarang dibayar dengan bahan bakar atau sabun,” tambah Al Sadiq Issa, seorang relawan lokal. Transaksi sehari-hari pun mengandalkan pertukaran barang.

Di sisi lain, situasi keamanan yang terus memburuk memperparah segalanya. Pendudukan RSF di Kota El Fasher belum lama ini, yang disertai pembantaian warga sipil, semakin memperlebar kekacauan nasional dan memutus jalur pasokan. Harga beras, tepung, dan bahan bakar bisa berubah dalam hitungan jam. Pedagang enggan menerima uang tunai karena nilainya bisa berbeda saat matahari terbenam.

Jalan keluar dari krisis ini masih tampak buram. Pertempuran antara pasukan pemerintah dan RSF terus berkecamuk tanpa tanda-tanda akan mereda. Selama mesin perang masih berjalan, upaya pemulihan ekonomi ibarat mimpi di siang bolong.

Para pengamat sudah memperingatkan. Tanpa gencatan senjata yang nyata, Sudan berisiko mengalami keruntuhan total sebuah bencana yang skala kehancurannya bisa menyamai atau bahkan melampaui apa yang pernah terjadi di Zimbabwe dan Venezuela. Negeri ini kini benar-benar masuk ke fase paling gelap: saat uang tak lagi bernilai, dan harapan pun menipis.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar