Pabrik BYD di Subang Masih On Track, Ditargetkan Beroperasi Awal 2026

- Senin, 24 November 2025 | 06:36 WIB
Pabrik BYD di Subang Masih On Track, Ditargetkan Beroperasi Awal 2026
Update BYD Indonesia

Pembangunan pabrik BYD di Indonesia ternyata masih berjalan sesuai rencana. Lokasinya di kawasan Subang Smartpolitan, Jawa Barat, dan ditargetkan selesai paling lambat akhir tahun ini. Kalau semua lancar, fasilitas produksi ini baru akan beroperasi penuh di tahun 2026.

Luther Panjaitan, Head of Public and Government Relations BYD Indonesia, menegaskan komitmen perusahaan. Ia bilang, pembangunan pabrik ini bukti keseriusan investasi BYD di sini. Mereka nggak mau main-main, sudah gelontorkan dana besar dan ingin fasilitasnya cepat berfungsi.

“Seperti komitmen kami kepada pemerintah, kami harus menyelesaikan pembangunan fasilitas produksi kami maksimal di tahun ini. Dan harus bisa beroperasi di tahun depan,”

Ujar Luther saat ditemui di Pantai Indah Kapuk, Minggu (23/11/2025).

Namun begitu, prosesnya nggak sepenuhnya mulus. Saat ini, mereka sedang melalui tahap penting yang berkaitan dengan sertifikasi dan prosedur dari berbagai kementerian. Hal-hal seperti jaminan kualitas dan sistem di Indonesia, kata Luther, berada di luar kendali mereka.

“Namun memang ada proses-proses itu lebih ke sertifikasi, kepastian QC, hal-hal yang related dengan sistem di Indonesia, artinya memang itu adalah sesuatu yang di luar kontrol kami,”

tambahnya.

Meski ada tantangan birokrasi, ia memastikan semuanya masih on track. BYD optimis pabrik bisa mulai dimanfaatkan pada kuartal pertama 2026, asalkan semua persyaratan administratif sudah beres.

“Tapi saat ini semuanya on track, kami akan umumkan langsung segera setelah semuanya komplet. Tapi kami sangat confidence di kuartal 1 kita bisa langsung memanfaatkan fasilitas itu,”

tegas Luther.

Dengan angka penjualan yang terus meroket, saat ini sudah menyentuh sekitar 10 ribu unit per bulan, kapasitas pabrik yang direncanakan sebesar 150 ribu unit per tahun dinilai sudah cukup pas. Fasilitas ini diharapkan jadi tulang punggung ekspansi BYD di Indonesia ke depannya.

“Karena kalau dilihat sekarang arah penjualan kita sudah di skala 10 ribu sebulan, ya tentunya memang fasilitas ini kan 150 ribu unit per tahun ya. Nah itu sudah sangat bisa untuk memproduksi per bulannya,”

ucapnya.

Nah, soal model pertama yang bakal diproduksi lokal, BYD masih mengkaji. Strateginya sih sederhana: prioritaskan model yang punya volume penjualan tertinggi.

“Itu yang kami secara internal masih kalkulasi dan kami masih susun strategi. Yang jelas biasanya pasti prioritas itu yang volume making. Itu yang menjadi prioritas,”

jelasnya.

Ketika ditanya apakah BYD Atto 1 jadi kandidat kuat, Luther nggak menampik.

“Bisa saja salah satunya. Karena ini dinamis ya. Atto 1 kan juga kami masih lihat pergerakannya. Bisa saja itu salah satu yang jadi prioritas,”

tutupnya.

Tak Hanya Pabrik, BYD Juga Peduli Lingkungan

Di sisi lain, BYD nggak cuma fokus bangun pabrik. Mereka juga punya komitmen kuat terhadap lingkungan, yang diwujudkan lewat program Beyond Community. Baru-baru ini, mereka menanam 500 pohon mangrove bersama para pemilik mobil BYD di Indonesia.

Luther bilang, dengan memilih kendaraan listrik BYD, para pemilik sudah ikut berkontribusi pada transisi energi dan pengurangan emisi. Kegiatan penanaman mangrove ini adalah bukti nyata kolaborasi antara perusahaan dan konsumen untuk menciptakan dampak yang lebih cepat, sejalan dengan visi BYD.

Ini bukan sekadar acara seremonial belaka. Menurut Luther, aksi ini punya dampak riil bagi lingkungan. Teknologi dan alam, katanya, harus berjalan beriringan, bukan terpisah.

“Kegiatan ini tidak sekadar menjadi kegiatan simbolik, penanaman ini mencerminkan, teknologi dan alam tidak bisa berjalan terpisah. Penanaman ini memberikan kontribusi terhadap pengurangan emisi,”

ujarnya.

Penanaman mangrove ini disebut punya potensi serapan karbon jangka panjang. Dengan 500 pohon, mereka bisa menyerap sekitar 10 ton CO2 per tahun. Lewat inisiatif seperti ini, BYD mengajak para pemiliknya untuk turut serta aktif mendukung keberlanjutan.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar