Gencatan Senjata Gaza Diobrak-Abrik, 24 Nyawa Melayang dalam Sehari

- Minggu, 23 November 2025 | 06:30 WIB
Gencatan Senjata Gaza Diobrak-Abrik, 24 Nyawa Melayang dalam Sehari

GAZA - Gencatan senjata yang seharusnya memberi napas bagi warga Gaza ternyata hanya ilusi. Sejak berlaku 10 Oktober lalu, Israel terus saja melanggar kesepakatan. Pada Sabtu (22/11/2025) saja, serangan udara mereka menewaskan sedikitnya 24 orang.

Rumah-rumah warga dan kendaraan di berbagai titik Jalur Gaza kembali menjadi sasaran. Dari udara, bom-bom menghujam tanpa ampun.

Menurut Juru Bicara Pertahanan Sipil Gaza Mahmoud Bassal, korban berjatuhan termasuk anak-anak dan orang tua. Mereka terjebak di dalam bangunan ketika serangan datang.

"Luma orang tewas dan beberapa lainnya luka akibat serangan drone Israel terhadap kendaraan di dekat Persimpangan Abbas, Kota Gaza," ujarnya.

Tak jauh dari sana, di Jalan Al Labbabidi, empat warga sipil meregang nyawa setelah rumah mereka dihantam rudal. Keadaan serupa terulang di Deir El Balah, Gaza Tengah.

Bassal melanjutkan, serangan terhadap satu rumah di dekat Masjid Bilal bin Rabah menewaskan dua warga dan melukai beberapa lainnya. Suasana mencekam langsung menyebar.

Di kamp pengungsi Nuseirat, tiga warga Gaza tewas dalam serangan yang menimpa rumah di samping Rumah Sakit Al Awda. Sementara di Kamp 2, tujuh nyawa lagi melayang akibat hantaman militer Zionis.

Bukan cuma serangan udara yang merenggut korban. Pasukan Israel juga menembak dan melukai tiga warga Palestina di dekat kamp pengungsi Al Bureij, Gaza Tengah, serta kamp Jabalia di Gaza Utara.

Menyikapi insiden ini, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) punya klaim sendiri. Mereka menyatakan menyerang seorang pria bersenjata yang diduga melewati garis kuning. Namun begitu, klaim semacam ini kerap dianggap tak berdasar, sekadar pembenaran untuk terus membunuh warga Gaza meski gencatan senjata sedang berlaku.

Faktanya, militer Israel masih menduduki lebih dari 50 persen wilayah Jalur Gaza. Mereka membentangkan garis kuning sebagai pemisah wilayah penarikan pasukan, tapi kenyataannya justru memperlebar area operasi.

Belakangan, tentara Zionis bahkan meningkatkan serangan di sebelah timur garis kuning. Akibatnya, wilayah yang luas hancur berantakan. Zona-zona di sekitarnya pun jadi sangat berbahaya bagi warga sipil yang tak bersenjata.

Sejak 7 Oktober 2023, serangan Israel ke Gaza telah menewaskan hampir 70.000 orang. Mayoritas korbannya perempuan dan anak-anak. Lebih dari 170.800 lainnya menderita luka-luka, hidup dalam trauma yang tak kunjung usai.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar