“Dengan hampir 1.900 anak perempuan yang berminat main bola, ini sinyal yang kuat. Meski rata-rata kemampuannya masih pemula, fondasi ini sangat baik untuk pengembangan di tahun-tahun mendatang,” tambah Heri.
Skill Challenge sebagai Wadah Penilaian Bakat
Selain turnamen utama 7 vs 7, MLSC Malang juga menampilkan Skill Challenge. Ajang ini terdiri dari lima pos tantangan untuk mengasah kemampuan dasar, yaitu Dribbling, Passing & Control, Penalty Shoot, Shoot on Target, dan 1 on 1.
“Skill challenge ini sangat bagus karena dapat menunjukkan kemampuan individu setiap peserta, mulai dari dribbling hingga shooting,” jelas Heri mengenai manfaat dari sesi tersebut.
Masa Depan Cerah Sepak Bola Putri Malang
Tingginya partisipasi dalam MLSC Malang dinilai sebagai indikator kuat bahwa sepak bola wanita di kota ini siap untuk berkembang pesat. Heri menegaskan bahwa Malang, yang telah lama dikenal sebagai kota sepak bola untuk pria, kini memiliki momentum emas untuk menumbuhkan kultur yang sama bagi pemain putri.
“Malang sudah dikenal dengan sepak bola putra. Dengan adanya event seperti ini, jalan untuk mencetak bibit-bibit unggul sepak bola putri dari Malang semakin terbuka lebar,” tutupnya.
Dibandingkan dengan kota-kota penyelenggara MLSC lainnya, Heri dengan yakin menempatkan Malang sebagai salah satu yang memiliki potensi dan antusiasme terbesar untuk masa depan sepak bola wanitanya.
Artikel Terkait
KPK Tangkap Kepala Seksi Intelijen Bea Cukai Terkait Dugaan Penghilangan Bukti Korupsi
AS Larang Total Perjalanan Warga ke Iran, Kategorikan sebagai Negara Pendukung Penahanan Ilegal
Iran Kecam Serangan AS-Israel sebagai Ancaman Perdamaian Dunia
KPK Pantau Pengadaan Mobil Dinas Gubernur Kaltim yang Diklaim Rp8,5 Miliar