Bagi Rocky, pesan dari anak itu jauh lebih dalam dari sekadar tragedi keluarga. Ia melihatnya sebagai sebuah sinyal bagi kehidupan berbangsa yang menurutnya mulai kehilangan roh.
“Dia memilih untuk dia mau pergi, dan tanpa ragu dia putuskan: hidup saya harus saya hentikan supaya hidup ibu saya berlanjut, supaya hidup lima adiknya berlanjut, supaya hidup di kecamatan itu berlanjut,” jelas Rocky.
“Supaya publik mengerti bahwa ada yang tidak beres dengan urusan republik. God of small things,” pungkasnya.
Kisah pilu yang dirujuk Rocky itu benar-benar terjadi. Seorang siswa kelas IV SD berinisial YS ditemukan meninggal dunia di Kabupaten Ngada, NTT, akhir Januari lalu. Korban ditemukan menggantung diri di sebuah pohon cengkeh.
Pemicunya, seperti yang diungkapkan Rocky, terasa sederhana namun mematikan: ia tidak dibelikan buku oleh ibunya. Sebelum mengakhiri hidup, YS sempat menuliskan sepucuk surat untuk ibunya. Isinya singkat, tapi cukup untuk membuat siapa pun yang membacanya terenyuh dan berpikir ulang tentang arti prioritas.
Artikel Terkait
Himpunan Mahasiswa Al Washliyah Desak Prabowo Tindak Tegas Erick Thohir
Analis Bongkar Agenda Terselubung di Balik Janji Kerja Mati-Matian Jokowi untuk PSI
Kata Cangkem Dahnil Anzar Picu Gelombang Tuntutan Pencopotan
Desakan Pencopotan Dahnil Menguat, dari Internal Muhammadiyah