Dunia sekarang ini sudah berubah total. Dinamikanya multipolar dan sangat cair. Carney, menurut Anies, mengajak negara-negara menengah untuk membuka mata dan menyadari realitas ini. Langkah selanjutnya? Membangun koalisi yang luwes. Beda isu, beda mitra. Tak perlu loyal buta pada satu kutub kekuatan saja, sambil tetap fokus memperkuat pondasi ekonomi dalam negeri.
Pesan ini, bagi Anies, relevan banget buat Indonesia. Diplomasi kita harus proaktif, bukan netral yang pasif. Tugasnya membangun jembatan, bukan cuma ikut arus yang sudah ada.
"Kanada bicara dari posisi negara menengah Barat. Sedangkan Indonesia bisa mengambil peran sebagai jembatan antara negara-negara menengah Barat yang mulai melek ini dengan Global South yang sudah lama merasakan ketidakadilan tatanan dunia. Kita punya legitimasi di kedua sisi," paparnya.
Di tengah dunia yang terkesan makin terpecah belah, justru momentum ini jadi peluang emas bagi negara-negara menengah. Kesempatan untuk membentuk tatanan baru yang lebih adil. Tapi syaratnya cuma satu: harus berani bergerak bersama.
Soal omongan Prabowo yang disebut Fahri, memang bukan hal baru. Catatan Republika menyebutkan, Prabowo Subianto beberapa kali telah menyuarakan hal serupa. Saat kunjungannya ke Turki pada April 2025 lalu, di hadapan Presiden Recep Tayyip Erdogan, ia menegaskan pentingnya peran Global South.
“Kami harus menjadi kekuatan positif dan kekuatan penting di dunia Islam. Kami juga harus tampil, tanggung jawab kami, tanggung jawab kita berdua sebagai pemimpin dari global south, juga sebagai mitra strategis dalam tatanan global,”
tegas Menteri Pertahanan kala itu. Gagasan itu rupanya masih terus bergulir, dan kini diangkat kembali dalam percakapan politik yang hangat.
Artikel Terkait
Jepang Bubarkan Parlemen, Warganet Indonesia: Kapan Giliran Kita?
Warga Wamena Keluhkan BBM Rp25 Ribu, Respons Santai Gibran Tuai Sorotan
Rustam Effendi Buka Suara: Eggi Sudjana Bisa Sewaktu-waktu Balik Badan
Gerakan Rakyat Usung Anies, NasDem Sindir: Pemilunya Masih Lama