Bagi Efriza, gagasan semacam itu sulit diwujudkan. Tanpa fondasi platform bersama yang kuat, dan yang lebih penting, komitmen jangka panjang yang bisa bertahan lintas kepemimpinan partai, wacana itu hanya akan mengambang. Ia melihat ini lebih sebagai manuver strategis ketimbang sebuah realitas politik yang siap dijalankan.
“Contoh konkretnya sangat banyak,” ujarnya singkat.
Sebagai Magister Ilmu Politik Universitas Nasional (UNAS), Efriza lalu membeberkan contoh. Catatan menunjukkan Golkar berkali-kali keluar barisan atau berbalik sikap setelah pemilu usai. Padahal, sebelumnya mereka adalah bagian dari koalisi pemerintahan. Pola ini, menurutnya, adalah sebuah siklus.
“Jika ditelusuri sejarah pascapilpres, partai yang paling sering tidak konsisten dalam koalisi adalah Golkar,” pungkasnya.
Ia melihat pola itu berjalan dari era SBY, berlanjut di era Jokowi, dan besar kemungkinan akan terulang lagi di era pemerintahan Prabowo nanti. Sebuah siklus yang, baginya, sulit diputus.
Artikel Terkait
Anggota DPR Desak Percepat Regulasi PPPK untuk 630 Ribu Guru Madrasah
Koordinator KKN UGM 1985 Klaim Tak Kenal Joko Widodo
Rocky Gerung Soroti Rp17 Triliun untuk Dewan Perdamaian Trump: Harga Sebuah Buku dan Nyawa Anak di NTT
Himpunan Mahasiswa Al Washliyah Desak Prabowo Tindak Tegas Erick Thohir