Bagi Efriza, gagasan semacam itu sulit diwujudkan. Tanpa fondasi platform bersama yang kuat, dan yang lebih penting, komitmen jangka panjang yang bisa bertahan lintas kepemimpinan partai, wacana itu hanya akan mengambang. Ia melihat ini lebih sebagai manuver strategis ketimbang sebuah realitas politik yang siap dijalankan.
“Contoh konkretnya sangat banyak,” ujarnya singkat.
Sebagai Magister Ilmu Politik Universitas Nasional (UNAS), Efriza lalu membeberkan contoh. Catatan menunjukkan Golkar berkali-kali keluar barisan atau berbalik sikap setelah pemilu usai. Padahal, sebelumnya mereka adalah bagian dari koalisi pemerintahan. Pola ini, menurutnya, adalah sebuah siklus.
“Jika ditelusuri sejarah pascapilpres, partai yang paling sering tidak konsisten dalam koalisi adalah Golkar,” pungkasnya.
Ia melihat pola itu berjalan dari era SBY, berlanjut di era Jokowi, dan besar kemungkinan akan terulang lagi di era pemerintahan Prabowo nanti. Sebuah siklus yang, baginya, sulit diputus.
Artikel Terkait
Demokrat Tak Terima Maaf, Empat Akun Pendukung Jokowi Tetap Dipolisikan
Prabowo Didesak Evaluasi UU Cipta Kerja, Dinilai Gagal Penuhi Janji
Demokrat Dukung Wacana Prabowo: Pilkada Kembali ke DPRD?
Prabowo Sindir Tudingan Program Makan Gratis Cuma Alat Politik