Dosen Kehutanan USU Tewas Ditikam Anak Kandung di Tengah Cekcok KDRT

- Rabu, 24 Desember 2025 | 06:30 WIB
Dosen Kehutanan USU Tewas Ditikam Anak Kandung di Tengah Cekcok KDRT

Medan diguncang kabar duka. Dr. Ir. Orang Kaya Hasnanda Syahputra, seorang dosen Fakultas Kehutanan USU, ditemukan tewas di kediamannya. Yang lebih mengejutkan, tersangka utamanya adalah anak kandungnya sendiri.

Kasus ini terungkap pada Minggu pagi, 30 November 2025, di rumahnya di Jalan Aluminium, Medan Deli. Dari pemeriksaan awal, polisi menduga kuat ada latar belakang Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang memicu tragedi ini.

Lantas, siapa sebenarnya OK Hasnanda Syahputra?

Profil Sang Akademisi

Dr. Ir. Orang Kaya Hasnanda Syahputra, MP, IPM, adalah nama yang cukup dikenal di lingkup kehutanan Sumatera. Pria kelahiran Aceh Timur, 23 Oktober 1967 ini adalah seorang dosen. Gelar "OK" di depan namanya mengisyaratkan ia berasal dari keturunan Melayu, yang sering dikaitkan dengan strata sosial terpandang.

Jejak pendidikannya mengesankan. Ia menyelesaikan S1 di Sekolah Tinggi Ilmu Kehutanan Banda Aceh pada 1993. Tidak berhenti di situ, ia meraih gelar magister pertanian dari Universitas Syiah Kuala di tahun 2004. Puncaknya, ia berhasil meraih gelar doktor dari Institut Pertanian Bogor (IPB) pada 2018, dengan fokus studi pada kelembagaan kehutanan.

Dunia profesionalnya dimulai jauh sebelum menjadi pengajar. Ia pernah menjadi pegawai di Hutan Tanaman Industri (HTI) Aceh Besar pada awal 90-an. Lalu, karirnya berlanjut di sebuah Hak Pengusahaan Hutan (HPH) di Aceh Barat. Pengalamannya juga mencakup kerja di Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi pasca-tsunami.

Namun, dunia akademik rupanya yang paling ia tekuni. Ia mulai mengajar di almamater S1-nya, STIK Banda Aceh, dari 2006 hingga 2016. Beberapa tahun berikutnya, ia dipercaya memimpin program studi dan bahkan menjadi dekan di sejumlah perguruan tinggi di Aceh.

Sejak 2020, ia bergabung dengan Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara. Di luar kampus, aktivitasnya padat dengan berbagai organisasi profesi, seperti Persatuan Insinyur Indonesia dan Perhimpunan Cendekiawan Lingkungan Indonesia. Ia juga terlibat dalam pusat-pusat penelitian unggulan terkait mangrove dan bambu.

Sebuah profil yang lengkap dan mentereng. Tapi, di balik itu, tersimpan kisah kelam yang berakhir tragis.

Detik-Detik Tragedi

Menurut Kasat Reskrim Polres Pelabuhan Belawan, Iptu Agus Purnomo, peristiwa berawal dari cekcok antara korban dan istrinya. "Pada saat itu, korban sedang cekcok dengan istrinya. Korban sampai memukuli istrinya," jelas Agus. Melihat ibunya dianiaya, OK Muhammad Hafiz, sang anak, tak bisa menahan emosi. "Lalu, pelaku tersulut emosi melihat tindakan ayahnya dan mengambil pisau dapur. Pelaku menusuk korban hingga meninggal dunia," tambahnya. Agus menyebutkan, korban menderita lebih dari tujuh tusukan di bagian dada, punggung, dan perut. Begitu mendapat laporan, petugas langsung bergerak ke lokasi dan menangkap pelaku.

Sebuah akhir yang pilu untuk seorang yang telah menorehkan banyak prestasi. Kasus ini meninggalkan pertanyaan mendalam tentang dinamika keluarga yang tersembunyi di balik tembok rumah.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar