Kampung Tengah Berduka: 33 Jenazah Dikebumikan dalam Tanah Basah

- Kamis, 04 Desember 2025 | 22:25 WIB
Kampung Tengah Berduka: 33 Jenazah Dikebumikan dalam Tanah Basah

Bau lumpur dan duka masih menggantung di udara Kampung Tengah, Palembayan, Agam. Daratan yang hancur oleh banjir bandang dan longsor kini menyisakan sepetak lahan kosong. Lahan itu, yang sebelumnya tak berarti, telah berubah dalam hitungan hari. Ia menjadi peristirahatan terakhir bagi puluhan korban yang tak lagi bernyawa.

Mereka menyebutnya "arus galodo" yang melanda akhir November lalu. Dan kini, di awal Desember, warga terpaksa mengambil keputusan yang paling berat. Dengan peralatan seadanya, tanpa menunggu bantuan logistik yang sempurna, mereka memakamkan jenazah secara massal. Tujuannya jelas: mencegah pembusukan dan ancaman penyakit di tengah kondisi yang sudah begitu parah.

Sejak Sabtu lalu, kerja bergantian tak henti. Mereka menggali tanah lembek, menata jenazah, lalu mengantarnya dengan doa-doa sederhana. Cuaca tak bersahabat, tapi langkah mereka tak bisa berhenti.

“Hingga Kamis, sekitar 33 jenazah sudah dimakamkan. Ada yang satu lubang itu 20 jenazah. Ada yang tidak lengkap organ tubuhnya. Daripada busuk, kami kuburkan cepat,”

Kata Ium, seorang warga yang terlibat langsung. Setiap temuan, katanya, seperti menyayat hati masyarakat yang sudah terluka.

Proses pencarian dan identifikasi memang berjalan sangat sulit. Bahkan, boleh dibilang nyaris mustahil untuk beberapa korban. Banyak jenazah ditemukan dalam keadaan tidak utuh. Hanya potongan tubuh.

“Ada yang tinggal pahanya saja… ada yang terpotong arus,”

ucap Ium lirih. Dua jenazah bahkan harus langsung dimakamkan tanpa identitas. Tak ada keluarga yang datang untuk mengenali, atau mungkin keluarganya sendiri juga menjadi korban.

Di lokasi, pemandangannya menyedihkan sekaligus menggetarkan. Ada yang mencangkul tanah basah, ada yang mengangkat kantong jenazah dengan hati-hati. Sebagian lagi hanya bisa berdiri di tepi liang lahat, mata berkaca-kaca, bibir berkomat-kamit. Sebuah kesedihan yang sunyi, tapi di dalamnya ada keteguhan yang luar biasa. Di saat seperti ini, solidaritas jadi satu-satunya tiang penyangga.

Namun begitu, pemakaman massal ini bukanlah akhir dari duka. Ia hanya satu babak yang harus dilalui. Evakuasi masih terus berjalan di titik-titik yang sulit dijangkau. Jumlah korban, sayangnya, masih mungkin bertambah.

Kini, di balik gundukan tanah basah yang baru ditutup itu, terbaring puluhan cerita. Cerita hidup yang terhenti terlalu cepat. Tanah itu menjadi monumen tanpa nama, sebuah pengingat pilu tentang betapa dahsyatnya amukan alam. Tapi juga, tentang keteguhan manusia yang tetap berusaha berdiri, meski di atas puing kehancuran.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar