JAKARTA Cerita ini terdengar seperti plot film fiksi ilmiah, tapi benar-benar terjadi di Kanada. Bayangkan saja: Anda sedang berkendara tenang, lalu melihat sebuah drone melayang-layang tepat di atas mobil Anda. Alih-alih alat bukti, benda terbang itu justru menjadi alasan Anda kena tilang. Inilah yang memicu kontroversi hangat belakangan ini, di mana polisi dituding menciptakan gangguan, lalu menilang pengemudi yang teralihkan karenanya.
Sepanjang bulan Mei lalu, setidaknya 20 surat tilang telah dikeluarkan oleh aparat melalui metode pemantauan udara ini. Namun, langkah tersebut bukannya disambut baik, malah memantik kritik pedas dari masyarakat dan para pegiat hak sipil. Yang menarik, beberapa tilang termasuk salah satu kasus yang akan kita bahas akhirnya dibatalkan begitu saja. Tanpa penjelasan resmi. Hal ini tentu mengundang banyak tanda tanya soal legalitas dan etika operasi semacam itu.
Memang, mengemudi dalam kondisi terdistraksi adalah masalah serius. Data dari AS menunjukkan pada 2023 saja, ada 3.275 nyawa melayang akibat kecelakaan yang dipicu gangguan saat menyetir. Polisi punya alasan kuat untuk menindak tegas pengendara yang asyik dengan ponselnya. Tapi kasus di Kanada ini lain cerita. Di sini, sumber gangguan itu justru datang dari alat kepolisian sendiri.
Laurie Esseltine masih ingat betul kejadiannya. Saat berhenti di lampu merah, dia melihat sebuah drone melayang tepat di atas kendaraannya. Tidak terlihat siapa pun yang mengoperasikannya di sekitar situ.
"Rasanya janggal," katanya.
Karena penasaran, Laurie mengambil dua foto drone itu dengan ponselnya. Dia menunggu lampu hijau menyala sebelum kembali melaju. Tapi belum jauh, mobilnya sudah dihentikan polisi Kingston. Tuduhannya: menggunakan ponsel saat mengemudi. Hukumannya berat: denda 449 dolar AS, tiga poin pelanggaran, plus ancaman penangguhan SIM tiga hari.
Dia merasa ini tidak adil. Dan anehnya, beberapa waktu kemudian, tilang itu dibatalkan. Begitu pula dengan setidaknya satu kasus serupa di hari yang sama. Pihak berwenang memilih tutup mulut, enggan memberi penjelasan.
Dari pihak kepolisian Kingston, ada sinyalemen bahwa mereka sedang mengevaluasi kebijakan ini. Mereka mengaku sudah tidak lagi menggunakan drone untuk menindak pengemudi lalai sejak insiden di Mei. Mereka juga menyatakan tidak tahu ada lembaga lain di Kanada yang memakai cara serupa. Pernyataan ini justru semakin menguatkan kesan bahwa ada yang salah dengan taktik tersebut.
Drone yang dipakai adalah model DJI Matrice 300, yang sebenarnya sudah dioperasikan sejak 2021. Fungsinya mulanya untuk hal-hal seperti rekonstruksi kecelakaan, pencarian, atau pengamanan acara besar. Penggunaannya untuk mengintai pelanggar lalu lintas dianggap banyak pihak telah melampaui mandat awal. Selain berisiko mengganggu konsentrasi pengemudi, cara ini juga dianggap mengusik privasi.
Canadian Constitution Foundation, sebuah yayasan hukum, ikut angkat bicara. Mereka menilai operasi semacam ini bisa dikategorikan sebagai penggeledahan yang tidak wajar. Mereka menduga pembatalan tilang dilakukan untuk menghindari gugatan hukum. Tapi desakan mereka jelas: batalkan semua 20 tilang yang dikeluarkan lewat drone.
Esseltine, dengan nada sarkastik, mempertanyakan logika dasar dari seluruh operasi ini.
"Cara apa yang lebih baik untuk menangkap pengemudi yang lalai," tanyanya, "daripada dengan memberikan gangguan itu sendiri?"
Pada akhirnya, kasus ini membuka kotak Pandora. Di satu sisi, niat menekan angka kecelakaan itu mulia. Di sisi lain, ketika teknologi penegak hukum justru menjadi sumber masalah baru, di mana batasannya? Kontroversi di Kanada ini mungkin baru awal dari perdebatan panjang yang akan menyusul di banyak tempat lain.
Artikel Terkait
Honda Stylo 160 Jadi Primadona, Wahana Honda Jual Lebih dari 500 Unit di IIMS 2026
China Siap Larang Kemudi Yoke pada Mobil Listrik Mulai 2027
Jetour T2 Tembus 1.000 SPK, Fokus Beralih ke Layanan Purna Jual
Penjualan Mobil Listrik Melonjak Tiga Kali Lipat pada Januari 2026