RD Kongo Incar Sejarah Baru, Siap Gebuk Uzbekistan demi Tiket ke Fase Gugur

- Sabtu, 27 Juni 2026 | 02:00 WIB
RD Kongo Incar Sejarah Baru, Siap Gebuk Uzbekistan demi Tiket ke Fase Gugur

Fabio Cannavaro dan skuadnya patut waspada. Lawan yang akan dihadapi di partai pamungkas babak penyisihan Grup K bukanlah tim sembarangan: Republik Demokratik Kongo. Kualitas Les Leopards tidak bisa diremehkan, dan mereka tampil sebagai salah satu kuda hitam yang siap memberikan kejutan di turnamen sepak bola paling bergengsi ini.

Perjalanan RD Kongo menuju putaran final tidaklah mudah. Semuanya berawal dari babak grup zona Afrika, di mana mereka tergabung dalam Grup B bersama nama-nama besar seperti Nigeria, Senegal, Sudan, Sudan Selatan, dan Togo. Di tengah persaingan ketat, mereka sukses keluar sebagai runner-up di bawah Senegal yang menjadi juara grup. Sepanjang fase grup, mereka mencatatkan tujuh kemenangan, satu hasil imbang, dan dua kekalahan, mengumpulkan total 22 poin hanya tertinggal dua angka dari Senegal.

Yang menarik, mereka berhasil menyingkirkan Nigeria, yang notabene merupakan salah satu unggulan Afrika. Tak berhenti di situ, Jamaika juga mereka singkirkan dalam babak play-off antar benua. Di putaran final, RD Kongo terus memberi kejutan. Pada laga pembuka Grup K, mereka menahan imbang Portugal 1-1. Kemudian, di laga kedua, mereka hanya kalah tipis 1-0 dari Kolombia. Hasil ini membuat mereka bertengger di peringkat ketiga klasemen sementara dengan koleksi satu poin.

Kombinasi Spirit dan Pengalaman

Pengalaman Arthur Masuaku sebagai pemain senior tak bisa diabaikan. Dalam dua laga babak penyisihan Grup K, pemain yang dipinjamkan Sunderland ke RC Lens itu membuktikan perannya sebagai wing back kiri yang solid. Ia stabil dalam membendung serangan lawan, sekaligus lihai menusuk pertahanan lawan.

Saat melawan Portugal, Masuaku menjadi pemain yang cukup menonjol. Berkali-kali ia menghalau serangan Cristiano Ronaldo dan kolega. Ia juga menjadi penyumbang assist bagi Yoane Wissa pada menit ke-45 5 untuk menyamakan kedudukan. Pada laga kontra Kolombia, performanya kembali apik. Ia mampu menahan gempuran James Rodriguez dan kawan-kawan, bahkan sempat sukses melakukan jebakan offside pada gol pertama Kolombia.

Namun, Masuaku tidak bermain penuh. Pada menit ke-72, ia ditarik keluar dan digantikan oleh Joris Kayembe. Nahas, hanya berselang empat menit setelah ia meninggalkan lapangan, RD Kongo kebobolan. Gol itu justru datang dari lini yang ditinggalkan Masuaku.

Sementara itu, Noah Sadiki membawa spirit dan motivasi besar. Sebagai pemain muda, mobilitasnya cukup tinggi dalam menjaga keseimbangan lini tengah. Ia sudah terlibat dalam dua laga Kongo di Piala Dunia kali ini, meski selalu masuk sebagai pemain pengganti untuk menjaga stabilitas lapangan tengah.

Pada laga kontra Portugal, Sadiki masuk pada menit ke-57 menggantikan Ngal’ayel Mukau. Penampilannya baik, dengan catatan 100 persen umpan sukses, serta dua tekel yang satu di antaranya berhasil. Kemudian, saat melawan Kolombia, ia kembali masuk pada awal babak kedua menggantikan Mukau. Selama 45 menit di atas lapangan, tingkat keberhasilan umpannya mencapai 81,3 persen, satu crossing sukses, dan dua tekel tanpa pelanggaran.

Jika kedua pemain tersebut diturunkan bersamaan pada laga kontra Uzbekistan, bukan tidak mungkin RD Kongo tampil lebih beringas sekaligus mengunci kemenangan.

Berpeluang Menggeser Portugal

Pada laga terakhir babak penyisihan Grup K, RD Kongo akan menghadapi wakil Asia, Uzbekistan. Ini menjadi momentum bagi mereka untuk mengunci tiket ke fase gugur. Bahkan, Kongo bisa keluar sebagai runner-up dan menggeser Portugal. Namun, hal ini baru bisa terjadi jika mereka mampu mengalahkan Uzbekistan dan Portugal kalah dari Kolombia. Produktivitas gol tentu akan menjadi penentu.

Jika Portugal menang atau bermain imbang kontra Kolombia, sementara Kongo memenangkan laga kontra Uzbekistan, maka mereka tetap berpeluang lolos sebagai salah satu peringkat tiga terbaik dengan koleksi empat poin. Itu sebabnya, Uzbekistan harus waspada kepada RD Kongo, tidak terkecuali dua punggawa Sunderland, Arthur Masuaku dan Noah Sadiki. Mereka kerap luput dari pengawasan, tetapi tidak pernah berhenti menebar ancaman.

Jika berhasil lolos dari fase grup, RD Kongo akan melampaui capaian mereka pada Piala Dunia 1974 silam. Saat itu, mereka tersingkir di fase grup dan gagal melaju ke babak knockout.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags