Senegal Hadapi Laga Hidup Mati Lawan Irak demi Peluang Lolos ke Babak Selanjutnya Piala Dunia 2026

- Jumat, 26 Juni 2026 | 11:31 WIB
Senegal Hadapi Laga Hidup Mati Lawan Irak demi Peluang Lolos ke Babak Selanjutnya Piala Dunia 2026

Senegal belum meraih satu pun poin setelah dua pertandingan di Piala Dunia 2026, namun peluang untuk melangkah ke babak selanjutnya belum sepenuhnya tertutup. Tim asuhan Aliou Cissé masih memiliki satu laga tersisa di fase grup, dan kemenangan menjadi satu-satunya pilihan untuk menjaga asa.

Dua kekalahan beruntun diraih Senegal. Les Blues menghajar mereka dengan skor 3-1, lalu Norwegia menyusul dengan kemenangan tipis 3-2. Hasil itu membuat tim berjuluk Singa Teranga itu tertahan di dasar klasemen grup tanpa koleksi angka. Meski demikian, performa mereka tidak seburuk catatan akhir pertandingan. Senegal selalu mampu mencetak gol di setiap laga, menandakan lini depan mereka tetap produktif meski berhadapan dengan lawan-lawan berat.

Prancis, Norwegia, dan Irak menjadi lawan yang harus dihadapi Senegal di fase grup. Dua nama pertama sudah terbukti menjadi batu sandungan. Kini, perhatian tertuju pada laga pamungkas melawan Irak yang akan digelar di BMO Field Toronto, Sabtu, 27 Juni, pukul 02.00 WIB.

Kemenangan atas Irak membuka jalan bagi Senegal untuk lolos sebagai salah satu dari delapan peringkat ketiga terbaik. Peluang itu tidak ingin disia-siakan. Tim diharapkan tampil habis-habisan, dan jika bisa mencetak banyak gol, posisi mereka dalam perhitungan produktivitas akan semakin kuat. Sebab, selain poin dan head to head, jumlah gol serta rekor fair play bisa menjadi faktor penentu jika semuanya berimbang.

Namun, ada kerikil tajam yang harus dihadapi. Kiper utama Senegal, Edouard Mendy, dipastikan absen karena cedera yang ia derita pada pertandingan sebelumnya. Kehilangan sosok penting di bawah mistar membuat lini pertahanan harus bekerja lebih solid. Beban pun ikut bertumpu pada lini tengah, yang dinilai memiliki peran ganda: memutus serangan lawan sebelum masuk ke area pertahanan, sekaligus menjadi poros untuk membangun serangan.

Di sinilah nama Habib Diarra mencuat. Gelandang berusia 22 tahun itu diyakini bisa menjadi pembeda. Fleksibilitasnya memungkinkan ia bermain sebagai box to box, jangkar, playmaker, bahkan turun membantu pertahanan. Artinya, Diarra tidak hanya menjalankan peran utamanya di sektor tengah, tetapi juga bisa membantu Kalidou Koulibaly di lini belakang sekaligus menjadi penyuplai bola bagi Nicolas Jackson, Sadio Mane, dan Ismaila Sarr di depan.

“Lini tengah itu sangat menentukan, karena mereka yang paling pertama memotong serangan lawan dan mengontrol serangan tim. Jadi butuh pemain kreatif dan petarung,” ujar eks pelatih PSM Makassar, Syamsuddin Umar.

Diarra juga memiliki nilai tambah lain. Ia belum menerima satu pun kartu selama turnamen berlangsung. Jika perhitungan akumulasi kartu turut menentukan peringkat ketiga terbaik, kondisi itu bisa menjadi keuntungan tersendiri bagi Senegal. Bersama Sunderland musim lalu, Diarra mencatatkan 22 penampilan di semua ajang dengan kontribusi tiga gol dan tiga assist. Pengalamannya bersama Tim Nasional Senegal juga tidak bisa diabaikan: 22 pertandingan dan empat gol sudah ia kumpulkan.

Kombinasi Diarra dengan Pape Gueye dan Idrissa Gueye di lini tengah menjadi salah satu opsi yang bisa dipilih pelatih. Atau, skema lain bisa diterapkan sesuai kebutuhan. Yang jelas, laga melawan Irak bukan sekadar pertandingan biasa. Ini adalah penentuan: apakah Senegal masih bisa mengatur napas untuk melangkah lebih jauh, atau harus pulang lebih awal.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.