Vozinha, Kiper Berusia 40 Tahun, Jadi Bintang Usai Tahan Imbang Spanyol di Piala Dunia 2026

- Selasa, 16 Juni 2026 | 11:30 WIB
Vozinha, Kiper Berusia 40 Tahun, Jadi Bintang Usai Tahan Imbang Spanyol di Piala Dunia 2026

Dunia sepak bola diguncang kejutan di laga perdana Piala Dunia 2026. Tanjung Verde, tim yang dipandang sebelah mata, sukses menahan imbang raksasa Spanyol tanpa gol di Atlanta Stadium, Senin (15/6) malam WIB. Di balik hasil heroik itu, nama Vozinha, kiper berusia 40 tahun, menjadi pusat perhatian setelah tampil bak tembok hidup yang tak tertembus.

Sepanjang pertandingan, Spanyol mendominasi hampir seluruh aspek permainan. Mereka melepaskan 23 tembakan, delapan di antaranya mengarah tepat ke gawang, dan menguasai bola hingga 62 persen. Namun, dominasi itu luluh lantak berhadapan dengan ketangguhan Vozinha yang melakukan tujuh penyelamatan krusial, termasuk menepis sundulan Mikel Oyarzabal yang nyaris pasti menjadi gol.

Penampilan gemilangnya membuat para pemain depan Spanyol frustrasi. Setelah peluit panjang berbunyi, Vozinha pun dinobatkan sebagai Man of the Match, sebuah pengakuan yang memicu sorotan global terhadap karier panjangnya yang penuh liku.

Di balik sorotan itu, perjalanan Vozinha menuju panggung dunia tidaklah singkat. Ia baru menembus level profesional pada usia 25 tahun bersama klub lokal Tanjung Verde, Batuque, pada 2011. Kariernya kemudian berlanjut ke Angola bersama Progresso pada 2015, sebelum menjelajahi berbagai liga Eropa seperti Zimbru Chisinau di Moldova, Gil Vicente di Portugal, AEL Limassol di Siprus, AS Trencin di Slowakia, hingga akhirnya bermain untuk Chaves di Portugal.

Menariknya, saat memperkuat AS Trencin pada musim 2022/2023, Vozinha sempat satu tim dengan pemain asal Indonesia, Witan Sulaeman. Kebersamaan mereka hanya berlangsung satu musim sebelum masing-masing melanjutkan karier di jalur yang berbeda.

Nama “Vozinha” sendiri bukanlah nama asli. Kiper veteran ini lahir dengan nama Josimar Jose Evora Dias, namun julukan itu melekat sejak kecil. Dalam sebuah wawancara dengan FIFA, ia menceritakan asal-usulnya.

“Julukan itu berasal dari kakek dan nenek saya,” ujar Vozinha.

“Saya tidak pernah tinggal bersama orang tua saya. Saat saya lahir, ayah saya sedang menjalani wajib militer dan ibu saya harus bekerja keras untuk mencari nafkah. Karena itu, saya tumbuh besar bersama kakek dan nenek,” sambungnya.

Julukan itu terus melekat hingga karier profesionalnya berkembang. Awalnya, Vozinha mengaku tidak menyukai nama panggilan tersebut, bahkan sempat merasa kesal. Namun, situasi di klub membuatnya akhirnya mengadopsi nama itu sebagai identitas resmi.

“Tidak ada yang mengenal saya seperti itu di Cape Verde. Awalnya saya tidak menyukainya, bahkan saya sempat kesal,” tuturnya.

“Ketika saya tiba di Angola, ada kiper lain yang juga bernama Josimar. Saya berkata bahwa saya tidak mau memakai nama Josimar II di jersey. Jika semua orang mengenal saya sebagai Vozinha di Cape Verde, itulah nama yang akan saya gunakan,” ungkapnya.

Kini, nama yang dulu sederhana itu telah berubah menjadi simbol ketangguhan di panggung terbesar dunia. Dengan penampilan heroiknya meredam gempuran Spanyol, Vozinha membuktikan bahwa usia hanyalah angka, dan mimpi bisa diraih dari mana pun asalnya.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar