Kecelakaan pesawat pembom strategis B-52 Stratofortress terjadi sesaat setelah lepas landas dari Pangkalan Angkatan Udara Edwards, di kawasan timur laut Los Angeles, Amerika Serikat. Insiden nahas itu menewaskan delapan orang di dalamnya, menjadikannya salah satu kecelakaan paling mematikan yang melibatkan alutsista andalan Angkatan Udara AS dalam beberapa tahun terakhir.
Pesawat yang mengalami kecelakaan tersebut merupakan bagian dari armada pembom strategis yang telah menjadi tulang punggung kekuatan udara Amerika selama lebih dari enam dekade. Menurut catatan resmi Angkatan Udara AS dan pabrikan Boeing, B-52 pertama kali diperkenalkan pada tahun 1954 dan terus menjalankan peran vital hingga kini. Model awal, B-52A, melakukan penerbangan perdananya pada tahun yang sama, sementara varian B mulai dioperasikan setahun kemudian, pada 1955.
Sebanyak 744 unit B-52 pernah diproduksi, dengan unit terakhir, yakni varian B-52H, dikirimkan pada Oktober 1962. Dari jumlah tersebut, sebanyak 102 unit B-52H pertama telah dikerahkan ke Komando Udara Strategis sejak Mei 1961. Varian H sendiri dikenal mampu membawa hingga 20 rudal jelajah yang diluncurkan dari udara, menjadikannya platform yang sangat fleksibel untuk berbagai misi tempur.
Fleksibilitas itu telah teruji dalam sejumlah operasi militer besar. Pada Operasi Badai Gurun atau Perang Teluk, serta Operasi Allied Force di Yugoslavia, B-52 menunjukkan kemampuannya menyerang konsentrasi pasukan di area luas, menghancurkan instalasi tetap, bunker, dan bahkan Garda Republik Irak. Pesawat ini juga mampu membawa berbagai jenis amunisi, mulai dari bom gravitasi, bom kluster, rudal berpemandu presisi, hingga amunisi serangan langsung gabungan, termasuk bom nuklir.
Salah satu misi paling bersejarah terjadi pada 2-3 September 1996, ketika dua pesawat B-52H menyerang pembangkit listrik dan fasilitas komunikasi di Baghdad. Dalam operasi yang dikenal sebagai Desert Strike itu, mereka meluncurkan 13 rudal jelajah konvensional AGM-86C (CALCM). Misi tersebut tercatat sebagai jarak tempuh terjauh untuk sebuah misi tempur, yakni perjalanan pulang pergi sejauh 16.000 mil dari Pangkalan Angkatan Udara Barksdale, Louisiana, yang memakan waktu 34 jam.
Sementara itu, peran B-52 terus berkembang seiring waktu. Rudal jelajah konvensional yang dibawanya mulai digunakan dalam operasi darurat sejak 1990-an, dan penggunaannya mencapai puncaknya pada Operasi Inherent Resolve pada 2016. Angkatan Udara AS sendiri memperkirakan akan terus mengoperasikan pesawat ini hingga tahun 2050, menjadikannya salah satu platform tempur dengan masa pakai terpanjang dalam sejarah penerbangan militer.
Artikel Terkait
1.780 Angkot di Kota Bogor Berusia di Atas 20 Tahun, Segera Ditertibkan
Polisi Tetap Kawal Aksi Demonstrasi di Depan DPR Meski Diguyur Hujan
Kiper Veteran Tanjung Verde Vozinha Jadi Bintang Usai Tahan Imbang Spanyol di Piala Dunia 2026
Polri Gagalkan Pengiriman 5,8 Kg Ganja dari Padang ke Banyuwangi, Tiga Tersangka Ditangkap