HARIAN, JAKARTA – Ada yang berbeda dari Veda Ega Pratama akhir pekan ini. Di sirkuit Jerez yang legendaris, ia bukan cuma balapan ia seperti sedang menulis ulang narasi kariernya sendiri. Start dari posisi ke-17, finis di urutan keenam. Angka-angka itu mungkin tidak langsung bikin orang terkesiap, tapi lihatlah bagaimana ia sampai di sana. Itulah cerita sesungguhnya.
Setelah seri Austin yang mengecewakan, banyak yang bertanya: apakah Veda bisa bangkit? Jawabannya datang cepat. Dari lampu hijau menyala, ia langsung tancap gas. Start bersih, tanpa drama. Dalam hitungan tikungan, ia sudah menyusup ke kelompok tengah. Lalu, tanpa banyak basa-basi, masuk ke 10 besar. Semua terukur. Tidak ada gerakan nekat, tidak ada spekulasi bodoh. Hanya perhitungan yang matang.
“Balapan ini sangat positif buat saya. Start saya baik, dan langsung bisa bergabung dengan grup yang bertarung di 10 besar,” katanya usai balapan, nada bicaranya tenang tapi penuh keyakinan.
Memasuki pertengahan balapan, Veda bahkan sempat merangsek ke posisi lima besar. Di sana, ia beradu manuver dengan Alvaro Carpe, pembalap papan atas yang tidak mudah ditaklukkan. Veda tidak cuma bertahan, ia juga menyerang di momen yang tepat. Membaca situasi dengan presisi sesuatu yang biasanya dimiliki pembalap yang sudah bertahun-tahun di arena.
“Dari sana, saya coba kelola balapan selangkah demi selangkah. Konsisten,” jelasnya, seolah menegaskan bahwa ia punya rencana sejak awal.
Tapi, namanya juga Moto3. Lap terakhir selalu jadi medan ujian. Grip ban mulai menurun, dan Veda merasakannya. Ban belakang mulai kehilangan daya cengkeram. Ia berusaha keras mempertahankan kecepatan, tapi fisika tetap berbicara. Di tikungan terakhir, Carpe berhasil menyalipnya. Veda turun ke posisi keenam.
“Di bagian akhir, saya mulai merasakan penurunan performa ban belakang. Tidak mudah mempertahankan kecepatan yang sama, tapi saya coba mengendalikannya sebisa mungkin,” akunya jujur.
Meski kehilangan satu posisi di detik-detik krusial, hasil ini tetap terasa seperti kemenangan moral. Di tengah persaingan sengit, ia membuktikan bahwa dirinya bukan sekadar pelengkap grid.
Jerez sendiri punya tempat khusus di hati Veda. Bukan cuma karena lintasannya yang menantang, tapi juga karena kenangan. Tahun lalu, di sirkuit yang sama, ia tampil di Red Bull Rookies Cup. Start dari posisi ke-15, ia melesat hingga finis ketiga. Manuvernya agresif, presisi, dan penuh keberanian. Beberapa orang bahkan menyebutnya mengingatkan pada Rossi muda pembalap yang tidak takut menciptakan peluang dari ketiadaan.
“Jerez selalu punya cara untuk melahirkan kisah besar. Saya tahu setiap tikungan di sini, dan saya siap menunjukkan performa terbaik,” ujarnya sebelum balapan, dengan senyum yang tidak bisa menyembunyikan rasa percaya diri.
Persaingan dengan pembalap seperti Hakim Danish dan Brian Uriarte memang menambah bumbu balapan. Tapi Veda punya keunggulan lain: ia hafal Jerez seperti punggung tangannya. Setiap titik pengereman, setiap lintasan ideal, semua sudah terekam di memori ototnya. Itu yang membuatnya mampu mengatur ritme balapan dengan lebih tenang.
Setelah kegagalan di Austin, hasil di Jerez ini seperti suntikan adrenalin. Veda tidak hanya bangkit, ia juga belajar. Ia tahu masih banyak yang harus diperbaiki, tapi kepercayaan dirinya kini kembali utuh.
“Masih ada hal-hal yang perlu ditingkatkan. Tapi saya ambil semua pelajaran dari akhir pekan ini, dan saya sudah tidak sabar menanti Le Mans,” pungkasnya, optimis.
Dengan manuver yang semakin tajam, ritme yang stabil, dan keputusan yang matang di setiap tikungan, Veda Ega Pratama kini bukan lagi sekadar pembalap muda yang menjanjikan. Ia sedang menunjukkan bahwa dirinya siap untuk naik ke level berikutnya dan siapa tahu, mungkin suatu hari nanti, ke kelas MotoGP.
Artikel Terkait
Borneo FC Kalahkan Persik Kediri 1-0, Geser Persib dari Puncak Klasemen
Adilson Silva Selangkah Lagi Kunci Sepatu Emas Liga 2 Usai Cetak 25 Gol
Pelatih Timnas U-20 Buka Peluang Fadly Alberto Tampil di Piala AFF U-19 2026, Tergantung Sikap dan Sanksi Komdis
Raphinha Dikabarkan Kembali Berlatih, Barcelona Berpeluang Turunkan Sang Kapten Lawan Osasuna