PARIS Malam itu di Parc des Princes, Harry Kane mencatatkan namanya di buku sejarah Liga Champions. Tapi ceritanya bukan sekadar soal gol. Ini soal konsistensi, ketangguhan mental, dan sebuah rekor yang kini melampaui legenda Liverpool, Steven Gerrard.
Bayern Munchen tumbang 4-5 dari PSG di semifinal leg pertama. Pertandingan yang gila, benar-benar gila. Tapi di tengah kekalahan itu, Kane tetap bersinar.
Gol pembuka Bayern datang dari titik putih. Luis Diaz dilanggar di kotak terlarang, wasit tanpa ragu menunjuk titik penalti. Kane maju. Tenang. Ia mengambil ancang-ancang, lalu melepaskan tembakan rendah ke sisi kiri kiper Matvei Safonov. Gol. Sederhana, tapi penuh makna.
Itu bukan sekadar gol biasa. Itu adalah gol keenamnya dalam enam pertandingan Liga Champions berturut-turut. Sebuah rekor baru untuk pemain Inggris. Sebelumnya, rekor itu dipegang Steven Gerrard lima laga beruntun bersama Liverpool di musim 2007/2008. Saat itu, Gerrard menjebol gawang Besiktas dua kali, lalu Porto, Marseille, dan Inter Milan. Kini, catatan itu sudah terlewati.
Rangkaian gol Kane sendiri cukup mengesankan. Ia mulai dengan gol ke gawang Royale Union Saint-Gilloise, lalu PSV Eindhoven, Atalanta, Real Madrid, dan kini PSG. Lawan-lawannya bukan kaleng-kaleng. Tapi Kane tetap konsisten. Ia seperti punya ritme sendiri di kompetisi ini.
Namun begitu, laga ini juga mencatat rekor lain. Untuk pertama kalinya dalam sejarah semifinal Liga Champions, babak pertama menghasilkan lima gol. Lima gol dalam 45 menit. Bayangkan. Tempo tinggi, serangan bertubi-tubi, dan pertahanan yang kadang seperti tidak ada.
Memasuki babak kedua, Khvicha Kvaratskhelia kembali menunjukkan kelasnya. Tembakan kerasnya tak mampu dihentikan Manuel Neuer. PSG kemudian menambah gol lewat Ousmane Dembele. Bayern? Mereka tidak menyerah. Dayot Upamecano dan Luis Diaz ikut mencatatkan nama di papan skor. Total, sembilan gol tercipta. Pertandingan yang rasanya seperti roller coaster.
Skor akhir 5-4 untuk PSG. Tapi peluang kedua tim masih terbuka lebar. Leg kedua akan digelar di Munich, 6 Mei mendatang. Segalanya masih mungkin terjadi.
Usai laga, Kane berbicara kepada Amazon Prime. Wajahnya campuran antara kecewa dan bangga.
"Kami memiliki momen-momen di mana kami bisa saja mengakhiri pertandingan lebih awal. Jadi, kami sangat bangga karena berhasil memperkecil ketertinggalan menjadi 4-5. Bermain tandang, tertinggal 2-5 bisa menjadi situasi yang sangat sulit. Tapi kami berjuang, dan kami berhasil memperkecil skor," ujarnya.
Ya, perjuangan belum selesai. Dan Kane, dengan rekor barunya, masih punya cerita untuk ditulis.
Artikel Terkait
Manchester United dan Liverpool Berebut Francisco Conceição, Winger Juventus Incaran Utama
Veda Ega Pratama Finis Keenam di Tes Resmi Moto3 Jerez, Hanya Tertinggal 0,186 Detik dari Tercepat
Trio Bayern Munich Cetak 100 Gol Gabungan, Pertama dari Klub Non-Spanyol di Abad Ini
PSM Makassar vs Bhayangkara FC Digelar Tanpa Penonton, Polda Sulsel Keluarkan Surat Larangan