Ia langsung meminta maaf kepada seluruh tim. Lalu berjanji untuk bangkit.
Sikap itu persis seperti yang dulu kita lihat dari Rossi muda. Agresif di lintasan, ya. Tapi juga cepat belajar, tidak takut gagal, dan punya kemampuan untuk melupakan kegagalan dengan segera. Legenda tidak lahir dalam semalam; mereka dibentuk dari jatuh-bangun seperti ini.
Dampak untuk klasemen jelas ada. Gagal finis membuat Veda melorot ke posisi ketujuh dengan 27 poin, tertinggal dari pemuncak klasemen Maximo Quiles.
Namun begitu, secara performa ia justru mengirimkan pesan yang keras: "Saya di sini bukan cuma untuk ikut-ikutan. Saya penantang."
Ada yang menarik soal kegagalan dalam balap. Anda bisa gagal karena lamban, tidak kompetitif. Tapi Anda juga bisa gagal karena terlalu berambisi, karena mendorong batas demi kemenangan. Veda jelas masuk kategori yang kedua.
Dan kalau kita tilik sejarah, hampir semua legenda MotoGP berasal dari kubu yang kedua.
Jadi, meski Austin adalah langkah mundur di papan angka, ini bisa jadi lompatan besar untuk kematangan Veda. Jalan masih sangat panjang.
Tapi jika ia bisa mengolah agresivitas liar itu menjadi konsistensi yang tajam, siapa yang tahu? Nama Veda Ega Pratama mungkin akan mengikuti jejak para pendahulu besar: sering terjatuh, lalu bangkit, dan akhirnya berdiri tegak di puncak.
Artikel Terkait
Tuchel Kecewa, Tapi Pahami Alasan Delapan Pemain Mundur dari Skuad Inggris
Timnas Indonesia Tertinggal dari Bulgaria di Babak Pertama Final FIFA Series
Veda Ega dan Marc Marquez Berbagi Nasib Pahit di COTA
PSM Makassar Berjuang Pertahankan Victor Luiz dari Incaran Tiga Raksasa Liga 1