Di kalangan suporter, angka segitu bikin banyak yang merenung. “Dana segitu bisa memperbagus stadion GBT,” tulis seorang Bonek dalam sebuah forum daring. Memang, uang sebanyak itu setara dengan nilai kontrak pemain level menengah atas di Liga 1. Bisa dibayangkan, dananya bisa dialihkan untuk hal yang lebih produktif memperkuat skuad atau membenahi fasilitas.
Menyikapi hal ini, manajemen Persebaya memilih jalan persuasif. Lewat akun media sosial resminya, mereka menyebar seruan singkat: “Ayo Bersama Kita Jaga Persebaya.”
Pesan itu disambut beragam. Banyak suporter yang mengajak sesamanya untuk introspeksi. Ada juga yang mengingatkan, fanatisme butuh diimbangi dengan tanggung jawab. Sebab, ketika dukungan melampaui batas, klublah yang akhirnya menanggung beban finansialnya.
Inilah sisi lain sepak bola Indonesia. Semangat suporter adalah nyawa yang menghidupkan stadion, menciptakan atmosfer tak terlupakan. Tapi di era sekarang, semangat saja tak cukup. Perlu kesadaran kolektif.
Bagi Persebaya dan Green Force, angka Rp590 juta itu mungkin akan jadi pengingat sepanjang musim. Cinta pada klub tak cuma diukur dari kerasnya teriakan di tribun, tapi juga dari sikap yang menjaga agar klub tak terus-menerus merugi.
Perjalanan masih panjang. Di lapangan, masih ada waktu untuk memperbaiki catatan. Sementara di luar lapangan, tantangannya tak kalah besar: bagaimana menjaga gairah itu tetap membara, tanpa harus membayarnya dengan harga yang selangit.
Artikel Terkait
Laga Borneo FC vs Persib Sarat Cerita Transfer Panjang
Wasit Paul Tierney Terjebak dalam Ritual Huddle Pemain Chelsea
Persebaya Tertinggi Denda Liga 1, Capai Rp590 Juta Akibat Pelanggaran Suporter
Asnawi Berencana Melamar Kekasih dan Berpotensi Gabung Persib