PSM Makassar Bangkit dari Ketertinggalan, Imbangi Malut United 3-3

- Minggu, 08 Maret 2026 | 22:30 WIB
PSM Makassar Bangkit dari Ketertinggalan, Imbangi Malut United 3-3
Laporan Pertandingan

Stadion Gelora Kie Raha Ternate malam itu riuh. Bukan di kandang sendiri, tapi di sinilah PSM Makassar menemukan secercah cahaya. Laga melawan Malut United berakhir 3-3, sebuah angka yang bagi banyak tim mungkin hanya catatan biasa. Tapi bagi Pasukan Ramang yang sedang terpuruk, satu poin ini terasa sangat berat. Seperti oase di tengah gurun.

Jalannya pertandingan sendiri seperti rollercoaster. PSM sempat unggul duluan berkat gol bunuh diri lawan. Tapi kemudian Malut United membalas. Bahkan, mereka mencetak tiga gol tanpa balas. Skor 1-3 untuk tuan rumah di babak kedua seolah menandakan malam yang suram bagi skuad tamu.

Namun begitu, sesuatu berubah.

PSM tidak menyerah. Mereka terus menekan, bermain agresif meski waktu semakin sempit. Dua gol balasan berhasil mereka ciptakan, menyamakan kedudukan. Jacques Medina, di menit-menit akhir, menjadi penyelamat dengan gol penyeimbang yang memicu euphoria kecil di bangku cadangan. Hasil imbang itu, secara teknis, cuma satu poin. Tapi nuansanya berbeda. Rasanya seperti kemenangan moral.

Pertandingan itu memperlihatkan semangat bertarung yang sempat hilang. Dan banyak yang menduga, perubahan energi ini ada kaitannya dengan keputusan manajemen beberapa hari sebelumnya.

Mereka mengangkat mantan kapten, Zulkifli Syukur, sebagai Direktur Teknik. Keputusan ini datang di saat yang tepat. Bayangkan saja, PSM sedang terjerembab dalam empat kekalahan beruntun. Dari 12 laga terakhir, cuma satu kemenangan yang bisa direngkuh. Situasi yang cukup mencemaskan untuk klub sekaliber mereka.

Kehadiran Zulkifli bukan sekadar urusan administratif. Dia adalah simbol. Sebagai bagian dari tim juara Piala Indonesia 2019, dia punya ikatan emosional yang dalam dengan klub dan pendukungnya. Rupanya, sentuhannya langsung terasa.

Asisten pelatih Ahmad Amiruddin tampak lega sekaligus bangga usai laga. Dalam konferensi pers, dia menyoroti perubahan mental pemain.

“Inilah spiritnya Makassar yang ada kembali pada pertandingan malam ini. Ada spirit siri’ na pacce,” ujarnya.

Itu filosofi Bugis-Makassar tentang harga diri dan solidaritas. Nilai yang selalu digaungkan sebagai jiwa PSM. Ketika itu muncul kembali, wajah tim pun berubah. Mereka berani, pantang menyerah meski tertinggal.

Tapi, jangan berharap terlalu cepat. Satu laga saja belum cukup menyelesaikan semua masalah. Posisi PSM di klasemen masih di zona rawan, peringkat 13. Jarak enam poin dari zona degradasi memang memberi sedikit ruang, namun masih terlalu dini untuk bernapas lega.

Belum lagi soal kondisi skuad. Beberapa pemain kunci masih dalam fase pemulihan cedera. Dinamika kepelatihan juga belum stabil. Pelatih kepala Tomas Trucha secara status masih ada, tapi nonaktif. Ahmad Amiruddin, dibantu Zulkifli Syukur, yang kini memegang kendali teknis di lapangan.

Di tengah semua kerumitan itu, pertandingan di Ternate setidaknya memberi sinyal. PSM belum mati. Mereka masih punya nyali untuk melawan. Dan dalam sepak bola, terkadang modal awal untuk bangkit adalah sekadar keberanian untuk tidak patah.

Perjalanan masih panjang. Tapi malam di Stadion Kie Raha mungkin akan dikenang sebagai titik di mana semangat itu mulai kembali menyala.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar