Bayangkan, dalam sepuluh tahun terakhir saja, Indonesia sudah memboyong enam gelar juara di nomor ini. Nama-nama seperti Hendra Setiawan, Mohammad Ahsan, hingga Fajar Alfian/Rian Ardianto sudah membuktikannya.
Secara keseluruhan, catatan Indonesia di turnamen ini memang gemilang. Sejak 1956, sudah 52 gelar yang berhasil dibawa pulang. Itu menempatkan kita di posisi empat besar dunia, sejajar dengan raksasa seperti Cina, Denmark, dan tuan rumah Inggris.
Konsistensinya pun terjaga. Dalam satu dekade terakhir, ada sembilan gelar dari tiga nomor berbeda yang berhasil diraih atlet-atlet Indonesia. Sungguh prestasi yang tak bisa dipandang sebelah mata.
Dukungan di Balik Selisih Waktu
Namun begitu, tantangannya nyata. Selain lawan yang tangguh, ada faktor selisih waktu tujuh jam antara Inggris dan Indonesia. Artinya, para pendukung setia di tanah air harus rela terjaga sampai dini hari.
Tapi justru di situlah momentumnya. Laga ini adalah kesempatan emas bagi Raymond dan Joaquin untuk membuktikan kelas mereka. Menumbangkan unggulan utama sekaligus merebut tiket ke final adalah target yang jelas.
Dukungan dari rumah, melalui sorak-sorai di layar kaca, diharapkan bisa menjadi suntikan energi. Semangat itu yang dibutuhkan duet muda ini untuk meneruskan tradisi emas, dan menorehkan nama mereka di panggung bulu tangkis dunia.
Artikel Terkait
Shin Tae-yong Dikabarkan Berminat Beli Klub Liga 2, Bekasi City
Debut Impresif Veda Ega, Bezzecchi Menangi Seri Pembuka MotoGP 2026 di Buriram
All England 2026: Tunggal Putra dan Putri Indonesia Terhenti di Perempatfinal
PSSI Didorong Manfaatkan Peluang Darurat FIFA untuk Gantikan Irak di Kualifikasi Piala Dunia 2026