MURIANETWORK.COM - Juventus menghadapi situasi kritis dalam perjalanan Liga Champions setelah dibekuk Galatasaray dengan skor telak 2-5 di Stadion Rams Park, Istanbul, Rabu (18/2/2026) dini hari WIB. Kekalahan ini membuat tugas tim asuhan Luciano Spalletti di leg kedua menjadi sangat berat: mereka harus menang dengan selisih minimal tiga gol di kandang sendiri untuk membalikkan agregat. Menanggapi hasil tersebut, legenda klub Alessandro Del Piero memberikan analisis tajam sekaligus perspektif yang tak terduga tentang masa depan tim.
Runtuhnya Pertahanan di Babak Kedua
Laga awal sebenarnya memberikan harapan bagi Juventus. Meski sempat tertinggal lebih dulu lewat gol Gabriel Sara, dua balasan cepat dari Teun Koopmeiners berhasil membawa Bianconeri unggul 2-1 hingga jeda. Namun, babak kedua justru menjadi mimpi buruk. Pertahanan Juventus tampak kacau dan kehilangan konsentrasi, memberikan ruang bagi Galatasaray untuk membalas. Noa Lang menjadi momok dengan mencetak brace, sementara Davinson Sanchez dan Sacha Boey melengkapi pesta gol tuan rumah. Situasi semakin suram setelah Juan Cabal, yang baru masuk sebagai pemain pengganti, menerima kartu merah di menit ke-67.
Analisis Del Piero: Lemah Mental dan Fisik
Menyaksikan langsung dari tribun, Alessandro Del Piero yang hadir sebagai analis tidak menyembunyikan kekecewaannya. Menurutnya, kekalahan ini adalah cerminan dari performa tim yang jauh dari kata maksimal di segala lini.
“Semua aspek memengaruhi Spalletti, semuanya berjalan salah. Ini menunjukkan kalau Juventus tidak tampil maksimal, risiko seperti ini akan muncul,” ucapnya.
Del Piero secara khusus menyoroti masalah mendasar yang ia lihat. Baginya, Juventus tampak kehilangan daya saing dan melakukan banyak kesalahan individual yang berakibat fatal.
“Mereka berjuang secara mental dan fisik. Galatasaray bermain luar biasa, lebih baik. Ketika bermain tiga hari sekali, tim harus siap di setiap laga. Jika tidak, mereka akan kesulitan,” tegas mantan kapten tersebut.
Pekerjaan Rumah Menuju Leg Kedua
Del Piero menekankan bahwa hanya perubahan energi dan fokus total yang bisa menyelamatkan peluang Juventus untuk melaju. Ia menggambarkan semangat pemain Galatasaray yang sulit untuk ditandingi.
“Mereka harus membalikkan kondisi untuk bisa lolos, karena pemain Galatasaray hampir terlihat ‘kerasukan’ di lapangan,” ungkapnya.
Namun, di tengah kritik pedasnya, Del Piero justru menyampaikan sebuah pandangan yang mencerminkan realitas lain. Ia mempertimbangkan beban jadwal yang padat dan implikasinya bagi tim.
“Mungkin ini bukan musibah terbesar bagi Juventus, supaya mereka hanya fokus bermain satu pertandingan per minggu,” tuturnya.
Ujian Nyata di Turin
Pernyataan Del Piero tersebut, meski kontroversial, menyentuh inti persoalan konsistensi yang kerap dialami tim besar dengan agenda kompetisi yang padat. Target menang tiga gol tanpa kebobolan di Allianz Stadium bukan sekadar tantangan taktis, tetapi lebih merupakan ujian karakter dan mentalitas. Untuk bertahan di level tertinggi Eropa, Juventus dituntut menunjukkan reaksi yang jauh lebih solid dan keinginan yang membara, mengubah kekecewaan di Istanbul menjadi energi positif di depan pendukung sendiri.
Artikel Terkait
Kisah Cinta Casey Stoner dan Adriana: Berawal dari Tanda Tangan di Perut Penggemar
Persib Tersingkir dari Liga Champions AFC Usai Kemenangan Tipis, Insiden Suporter Warnai Laga
Shayne Pattynama Antisipasi Debut Perdana di Jakarta International Stadium
Alwi Farhan Siapkan Strategi Latihan Saat Ramadan untuk All England dan Swiss Open 2026