MURIANETWORK.COM - Victor Osimhen membuka suara tentang masa-masa terakhirnya di Napoli yang penuh gejolak sebelum akhirnya hijrah ke Galatasaray. Striker asal Nigeria itu mengungkapkan perasaan diperlakukan tidak layak oleh manajemen klub, meski sempat mendapat keinginan dari pelatih Antonio Conte untuk bertahan. Dalam wawancara eksklusif, Osimhen juga mengonfirmasi minat konkret dari Juventus yang berusaha merekrutnya melalui Cristiano Giuntoli sebelum kepindahannya ke Turki.
Minat Juventus dan Janji yang Tak Ditepati
Sebelum mendarat di Istanbul, jalan Osimhen ternyata hampir menuju Turin. Mantan bomber Napoli itu mengakui adanya komunikasi resmi dari Juventus yang saat itu masih dikelola oleh Cristiano Giuntoli, orang yang pernah membawanya ke Napoli dahulu. Minat dari raksasa Serie A itu cukup serius, namun Osimhen sadar bahwa Presiden Napoli, Aurelio De Laurentiis, akan menjadi penghalang besar.
“Ya, tetapi saya bisa saja berada di dua klub top Serie A lainnya hari ini,” ungkap Osimhen.
Ia melanjutkan, “[Mantan direktur Juventus] Giuntoli menghubungi saya untuk mengajak saya ke Juve sebelum negosiasi dengan Galatasaray dimulai. Saya berbicara dengan beberapa orang dari klub tersebut. Mereka menunjukkan minat, tetapi saya tahu bahwa dia [Presiden Napoli Aurelio De Laurentiis] tidak akan membiarkan saya pergi. Bagaimanapun, minat itu pasti ada. Dan ketika Juventus menghubungi, terlepas dari segalanya, Anda duduk dan mendengarkan,” jelasnya.
Puncak Perselisihan: Insiden TikTok dan Dampaknya
Segalanya berubah drastis pasca insiden pada September 2023. Usai gagal mengeksekusi penalti melawan Bologna, akun resmi Napoli justru memposting video yang mengejek sang striker di platform TikTok. Bagi Osimhen, momen itu adalah titik balik yang pahit dan meninggalkan luka mendalam.
“Saya merasa kasihan pada para penggemar, juga karena saya tidak pernah berbicara tentang apa yang terjadi sebelumnya,” kata sang striker.
“Beberapa dari mereka bahkan datang ke rumah saya meminta penjelasan. Saya meminta mereka untuk menempatkan diri mereka di posisi saya. Setelah Napoli mengunggah video itu di TikTok, sesuatu terjadi,” ungkapnya.
Dengan nada kecewa, ia menambahkan, “Siapa pun bisa gagal mengeksekusi penalti, dan siapa pun bisa diejek karenanya. Napoli melakukannya hanya kepada saya, dan dengan sindiran tertentu juga. Saya menjadi korban penghinaan rasis, dan saya membuat keputusan. Saya ingin pergi.”
Permintaan Maaf yang Tak Pernah Datang
Yang lebih menyakitkan bagi Osimhen adalah ketiadaan permintaan maaf yang tulus dari pihak klub. Ia mengaku hanya mendapat telepon dari Edoardo De Laurentiis, putra presiden klub. Sementara itu, berbagai rumor negatif tentang kedisiplinannya mulai beredar, yang ia bantah tegas.
“Itu semua bohong. Saya minta maaf kepada para penggemar, tetapi saya mengerti dan mengagumi mereka: mereka mendukung klub, apa pun yang terjadi. Bagi mereka, Napoli lebih penting daripada segalanya,” ujarnya.
Perlakuan yang Memicu Keputusan Pergi
Meski telah memperpanjang kontrak pada Desember 2023, Osimhen mengaku sudah ada kesepakatan lisan bahwa ia boleh pergi pada musim panas 2024. Namun, janji itu dianggapnya tidak dihormati. Situasi pun semakin memanas menjelang akhir masa jabatannya di Napoli.
“Mereka mencoba mengirim saya ke mana saja untuk bermain, tetapi mereka memperlakukan saya seperti anjing. Pergi ke sini, pergi ke sana, lakukan ini, lakukan itu. Saya bekerja sangat keras untuk membangun karier saya, dan saya tidak dapat menerima perlakuan seperti itu. Saya bukan boneka,” tudingnya dengan tegas.
Antonio Conte Ingin Ia Bertahan
Ironisnya, di tengah keruhnya hubungan dengan manajemen, datanglah Antonio Conte yang ditunjuk sebagai pelatih baru pada 2024. Sang pelatih ternyata memiliki pandangan berbeda dan menginginkan Osimhen tetap menjadi tulang punggung serangannya.
“Tentu saja, meskipun beberapa orang bilang dia tidak menginginkan saya. Serius? Pelatih mana yang saat itu tidak menginginkan saya?” kata Osimhen retoris.
Ia kemudian membeberkan percakapan mereka, “Begitu tiba, Conte memanggil saya ke kantornya dan mengatakan dia menyadari situasinya tetapi, terlepas dari segalanya, dia ingin saya tetap tinggal. Saya mengatakan saya ingin bekerja dengannya, tetapi kemudian saya telah membuat keputusan: Saya tidak ingin terus bekerja di tempat di mana saya tidak merasa bahagia.”
Kebahagiaan Baru di Galatasaray
Kini, di musim keduanya bersama Galatasaray, Osimhen menemukan ketenangan dan apresiasi yang ia dambakan. Kehidupan di Istanbul telah memberinya suasana baru yang positif, jauh dari hiruk-pikuk perseteruan di Napoli.
“Saya menemukan klub dan kota yang saya cintai. Mungkin itu keberuntungan. Begitu Anda tiba di Istanbul, Anda mengerti mengapa siapa pun yang pernah bermain di sini jatuh cinta pada tim dan orang-orangnya. Saya belum pernah mengalami hal seperti itu,” pungkasnya.
Kisah panjang itu akan berbuah pertemuan menarik dini hari nanti, ketika Galatasaray bersua dengan Juventus salah satu klub yang pernah mengincarnya di babak play-off Liga Champions. Pelatih Juventus saat ini adalah Luciano Spalletti, orang yang pernah membimbing Osimhen meraih scudetto. Pertemuan ini pasti akan sarat dengan narasi dan emosi bagi sang striker.
Artikel Terkait
Louis Saha Soroti Potensi MU Rekrut Cole Palmer dan Endrick
Serie A Jatuhkan Sanksi Tegas, CEO Juventus Diskors hingga Akhir Maret
Manchester United dan Chelsea Bantah Dekati Jurgen Klopp
Persija Bangkit dari Kekalahan, Kalahkan Bali United 1-0 di Gianyar