Persib Dibantai Ratchaburi 0-3, Kesiapan Asia Dipertanyakan

- Kamis, 12 Februari 2026 | 22:30 WIB
Persib Dibantai Ratchaburi 0-3, Kesiapan Asia Dipertanyakan

BANDUNG Persib Bandung terpukul di kandang lawan. Pada leg pertama babak 16 besar AFC Champions League Two, Maung Bandung dibungkam Ratchaburi FC dengan skor telak 0-3, Rabu (11/2/2026). Hasil ini bukan cuma angka, tapi tamparan keras. Sebuah pertanyaan besar menggantung: sebenarnya, seberapa siap Persib berlaga di kancah Asia?

Dua pemain anyar, Sergio Castel dan Layvin Kurzawa, akhirnya melakoni debut. Mereka masuk di babak kedua, sayangnya waktu kurang dari 45 menit itu terasa singkat. Terlalu singkat untuk mengubah jalannya pertandingan yang sudah terlanjur sulit.

Pelatih Bojan Hodak meminta kesabaran.

“Mereka baru datang. Wajar butuh waktu untuk beradaptasi dan menyatu dengan rekan-rekan,” ujarnya usai laga.

Soal kualitas, nama Castel dan Kurzawa jelas punya bobot. Castel diharap jadi solusi serangan, sementara Kurzawa diandalkan untuk memperkokoh pertahanan kiri sekaligus menyokong serangan. Tapi malam itu di Stadion Ratchaburi, masalah Persib terlihat jauh lebih rumit dari sekadar urusan adaptasi pemain baru.

Ratchaburi langsung menekan sejak peluit awal. Intensitas tinggi, pergerakan cepat, disiplin taktik yang apik. Persib seperti kehilangan napas, kalah di hampir semua sektor: duel, tempo, bahkan determinasi. Kekalahan tiga gol tanpa balas itu adalah alarm. Level Asia ternyata menuntut lebih dari sekadar kumpulan pemain bagus.

“Kita perlu evaluasi mendalam. Kekalahan ini harus jadi pelajaran untuk leg kedua nanti,” tambah Hodak.

Tapi bagi bobotoh yang setia, pelajaran saja tidak cukup. Mereka ingin lihat perlawanan.

Di tengah kekecewaan, obrolan liar pun bermunculan di kalangan suporter. Bagaimana jadinya jika Persib punya sosok pemimpin seperti Sergio Ramos di jantung pertahanan? Atau striker berdarah dingin macam Ole Romeny yang bisa menyelesaikan peluang sekecil apapun?

Memang terdengar seperti mimpi siang bolong. Tapi angan-angan itu sebenarnya mencerminkan satu kebutuhan nyata: Persib butuh sosok pembeda, pemain yang bisa memberi pengaruh besar di momen krusial.

Ramos, misalnya, bukan cuma soal kemampuan bertahan. Dia membawa mental juara dan kepemimpinan yang bisa menulari rekan-rekan saat situasi sulit. Sementara Romeny, dengan naluri mencetak golnya, bisa jadi jawaban atas finishing yang kerap tumpul.

Memang, secara materi pemain, Persib cukup kompetitif di Liga 1. Namun panggung Asia lain cerita. Di sini, detail kecil jadi penentu. Kesalahan sedikit saja, langsung dihukum.

Mendatangkan bintang sekelas Ramos tentu masih di awang-awang. Tapi pesannya jelas: untuk bersaing di level ini, Persib butuh kombinasi sempurna antara kualitas teknis, pengalaman, dan mentalitas baja.

Castel dan Kurzawa masih perlu waktu. Hodak juga masih mencari formula terbaik. Nah, leg kedua nanti akan jadi momen penentuan: bangkit atau pulang dengan tangan hampa.

Peluang itu masih ada, sekecil apapun. Tapi untuk membalikkan keadaan, Maung Bandung harus tampil dengan wajah baru. Lebih disiplin, lebih berani, dan jauh lebih tajam. Sebab di kompetisi Asia, nama besar saja tak berarti apa-apa. Yang paling dibutuhkan adalah karakter yang lebih besar lagi.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar