Konon, sejak awal pelatih Jan Olde Riekerink memang ngotot butuh gelandang bertahan murni. Selama ini lini tengah Dewa kerap dipaksa berkompromi, dengan pemain-pemain kreatif harus turun membantu pertahanan.
Nah, di sinilah peran Jenner dianggap krusial. Dia diharapkan menjadi jangkar yang menjaga ritme, menutup ruang berbahaya, dan membebaskan pemain lain untuk maju menyerang. Jadi, kedatangannya bukan sekadar soal menambah kedalaman skuad, melainkan jawaban atas masalah taktis yang selama ini mengganggu.
Kebutuhan vs. Kemewahan
Perbedaan sudut pandang inilah yang bikin cerita transfer ini menarik. Bagi Persija, mungkin Jenner dilihat sebagai penguat yang oke. Tapi bagi Dewa United, dia adalah kebutuhan mendesak yang harus segera dipenuhi.
Faktanya, tanpa sosok gelandang bertahan murni, struktur permainan Dewa kerap terlihat goyah. Kehadiran Jenner langsung mengatasi masalah itu. Statusnya sebagai pemain muda juga menguntungkan secara regulasi, sementara kualitasnya diklaim setara pemain asing.
Lingkungan yang Tepat
Harus diakui, Dewa United jeli membaca situasi. Mereka membangun ekosistem yang nyaman bagi pemain keturunan, dengan komunikasi transparan dan peran yang jelas. Keberadaan Struick, sesama pemain Belanda-Indonesia, tentu memberi rasa familiar dan aman bagi Jenner untuk memulai petualangan barunya.
Sementara itu, Persija disebut masih sibuk dengan target-target lain. Dewa United datang dengan tawaran konkret dan perencanaan matang. Tikungan ini bukan kebetulan, tapi hasil kalkulasi yang jitu.
Kini, cerita bergulir di Tangerang Selatan. Apakah langkah Jenner ini akan menjadi kunci kebangkitan Dewa? Atau justru jadi penyesalan panjang bagi Persija? Hanya waktu yang bisa menjawabnya.
Artikel Terkait
Liverpool Incar Bek PSV Berdarah Indonesia untuk Perkuat Lini Belakang
Mauro Zijlstra Resmi Perkuat Persija, Bomber Muda yang Ditunggu Jakmania
Debut Indonesia di BATC 2026: Rachel/Febi dan Ester Gemilang Atasi Hong Kong
Souto Masam Meski Bawa Timnas Futsal Indonesia Pecahkan Rekor