Fasilitasnya terbilang lengkap untuk ukuran anak-anak. Ada tiga lapangan, lima kelas ruangan, satu kolam renang, plus satu dinding panjat tebing yang semuanya berada dalam satu area. Memang, ukuran lapangannya mini, tapi itu justru disesuaikan dengan kebutuhan dan postur anak usia dini.
Lawan Ketergantungan Gadget
Menurut Susy, ide mendirikan akademi ini sudah mengendap sejak pertengahan tahun lalu. Awalnya dari mendengar kegelisahan banyak orang tua. Mereka ingin anaknya hidup sehat dan punya kegiatan positif, sekaligus lepas dari ketergantungan gadget.
“Setelah COVID, olahraga jadi semacam kebutuhan ya. Saya lihat semua orang sekarang ingin hidup sehat,” jelas Susy.
“Lalu, dari obrolan dengan para ibu. Anak-anak sekarang kan main gadget terus. Bahkan mau makan pun harus sambil lihat layar biar anteng. Nah dari situlah kami berpikir, kenapa tidak mengenalkan olahraga sejak usia dini? Bukan cuma untuk fisik, tapi juga agar mereka belajar bersosialisasi.”
“Kami juga ingin membantu membentuk karakter. Dari kecil sudah diajari antre, mengucapkan terima kasih, bilang tolong. Jadi ada nilai-nilai pendidikan yang kami sisipkan. Kurikulumnya kami susun dengan serius, tidak asal-asalan,” imbuhnya.
Seluruh program dirancang dalam kurikulum terstruktur oleh pelatih profesional, dengan dukungan ilmu bertaraf Olimpiade tentunya. Tujuannya untuk memastikan kualitas, keamanan, dan tahapan belajar yang sesuai usia. Ke depan, ASNA Academy juga berencana menjalin kolaborasi dengan klub-klub olahraga profesional. Jadi, bagi anak yang punya bakat serius, ada jalur yang jelas untuk dikembangkan.
Artikel Terkait
Openda Diambang Kepergian dari Juventus Setelah Gagal Penuhi Ekspektasi
Ancelotti Tegaskan Neymar Belum 100% Siap, Bintang Brasil Tak Masuk Skuad
PSM Makassar Cabut Sanksi, Imbau Pemain Jaga Berat Badan Saat Libur Lebaran
Persib Bandung Luncurkan Koleksi Streetwear Eksklusif Kolaborasi dengan Brand Inggris