MAKASSAR Zona degradasi? Persis Solo jelas tak mau berlama-lama di sana. Menutup putaran pertama Super League 2025/2026 di posisi berbahaya, Laskar Sambernyawa memilih langkah drastis. Mereka merombak skuad secara radikal, mendatangkan lima pemain baru sekaligus dalam waktu singkat. Tiga di antaranya legiun Serbia, dua lagi pemain lokal berpengalaman. Pesannya tegas: mereka menolak untuk tenggelam.
Langkah agresif ini tentu jadi peringatan untuk semua pesaing, termasuk PSM Makassar. Sementara klub lain masih berhitung, Persis malah tancap gas. Di Surakarta, situasinya sudah dianggap darurat. Tak ada waktu lagi untuk ragu-ragu.
Manajemen melihat realita dengan jernih. Putaran pertama memperlihatkan banyak lubang, terutama di pertahanan yang bolong dan lini tengah yang tak punya kendali. Daripada menambal sedikit-sedikit, mereka memutuskan untuk mengganti mesin utamanya. Perombakan besar pun tak terhindarkan.
Perhatian pertama tentu pada trio Serbia. Miroslav Maricic resmi diperkenalkan Selasa lalu. Gelandang 27 tahun itu diharapkan jadi otak permainan baru. Dia menyusul dua rekan senegaranya, Vukasin Vranes dan Dusan Mijic, yang tiba sehari sebelumnya.
Maricic ini bukan pemain biasa. Dia dikenal serba bisa, sanggup mengisi sepuluh posisi berbeda dari bek tengah, gelandang bertahan, gelandang serang, sampai penyerang tengah. Bagi pelatih Milomir Seslija, fleksibilitas macam ini adalah anugerah. Di tengah tekanan, punya satu pemain yang bisa dipakai di banyak tempat itu seperti harta karun.
Klub sendiri, dalam pernyataan resminya, menyambut Maricic dengan kalimat penuh harap. “Mesin baru di jantung permainan dari Serbia telah tiba di Surakarta. Sugeng rawuh, Miroslav Maricic!” Pilihan kata “mesin” itu jelas sengaja. Persis butuh penggerak, sosok yang bisa menyambung lini, menutup ruang, sekaligus memulai serangan balik.
Di bawah mistar, ada Vukasin Vranes. Kiper Serbia ini diharap jadi solusi atas ketidakstabilan kiper sebelumnya. Vranes datang dengan beban jelas: tugasnya bukan cuma jaga gawang, tapi juga jaga harapan supaya klub tetap bertahan.
“Saya tahu Solo adalah salah satu klub terbesar di Indonesia, dengan penggemar yang hebat,” ujar Vranes.
Kata-katanya menunjukkan dia paham betul tekanan yang akan dihadapi. Bermain untuk Persis di saat seperti ini, tekanannya sama besarnya dengan di klub papan atas.
Untuk memperkuat pertahanan yang kerap bobol, hadirlah Dusan Mijic. Banyak gol yang kebobolan Persis di putaran pertama akibat kesalahan dasar lambat bereaksi, kalah duel udara, koordinasi berantakan. Mijic diharapkan membawa ketenangan dan disiplin yang lebih baik ke garis belakang.
Tapi pergerakan mereka tak cuma mengandalkan pemain asing. Di pasar lokal, Persis juga bergerak cepat. Nama Yabes Roni mungkin yang paling mencolok. Winger berpengalaman yang hampir sepuluh tahun membela Bali United ini dipinjam untuk menambah daya gedor di sayap. Dia membawa reputasi juara dua gelar Liga 1 dan lebih dari 160 pertandingan di level tertinggi.
Pengalaman Yabes itu aset berharga buat tim yang sedang tertekan. Di ruang ganti, dia bisa jadi figur yang tahu bagaimana menghadapi masa-masa sulit. Kecepatan dan naluri menyerangnya diharap bisa mengobati masalah lini depan Persis yang tumpul.
Selain Yabes, ada juga Alfriyanto Nico. Bek kanan muda pinjaman dari Persija Jakarta ini diboyong untuk menyuntikkan energi dan semangat baru di sisi pertahanan. Nico dikenal agresif dan berani maju, sesuatu yang kurang dari permainan Persis sebelumnya.
Dengan lima pemain baru ini, Persis seperti sedang membangun ulang jati dirinya. Dari tim yang rapuh dan mudah dipatahkan, mereka ingin berubah menjadi skuad dengan struktur kokoh, fisik tangguh, dan mental bertarung habis-habisan.
Nah, di sinilah alarm harus berbunyi bagi PSM Makassar. Setelah bebas dari sanksi FIFA, pergerakan PSM di bursa transfer terasa masih sangat hati-hati. Belum ada kejutan, belum ada gebrakan. Di kompetisi yang ketat, diam di tempat sama saja dengan mundur.
Persis Solo yang dulu mungkin dianggap lawan mudah, kini punya potensi jadi ancaman serius. Mereka masuk putaran kedua bukan sebagai korban yang pasrah, tapi sebagai penantang yang putus asa. Dan seperti kita tahu, tim yang putus asa seringkali paling berbahaya.
Kedatangan Dusan Mijic, Vukasin Vranes, Alfriyanto Nico, Miroslav Maricic, dan Yabes Roni adalah deklarasi terbuka: Laskar Sambernyawa belum mau turun kasta. Buat PSM, ini lebih dari sekadar kabar transfer. Ini peringatan. Di putaran kedua nanti, Persis bukan lagi tim zona merah yang bisa diremehkan begitu saja.
Artikel Terkait
Persis Solo Bangkit dari Ketertinggalan, Kalahkan Bhayangkara FC 2-1 dan Jauhi Zona Degradasi
Taspen Bantah Kabar Rapel dan Kenaikan Gaji Pensiunan PNS April 2026, Sebut Informasi Itu Hoaks
Megawati Hangestri Buru Klub Baru di V-League, Red Sparks Terancam Kehilangan Bintangnya
Persebaya Kehilangan Gali Freitas dan Rachmat Irianto Jelang Lawan Malut United