Yamaha akhirnya memutuskan untuk mengubah total DNA motornya di MotoGP. Setelah bertahun-tahun setia dengan mesin empat silinder segaris, pabrikan asal Jepang itu akan beralih ke konfigurasi V4 mulai musim 2026 mendatang. Keputusan besar ini diakui sendiri oleh Alex Rins, pembalap Monster Energy Yamaha, sebagai sebuah langkah yang tak terhindarkan. "Kita memang sudah tertinggal jauh," ujarnya, dengan nada jujur yang menegaskan situasi sulit timnya.
Kalau melihat catatan musim 2025, pernyataan Rins itu bukan sekadar kekhawatiran. Hasilnya benar-benar suram. Yamaha terlempar ke dasar klasemen konstruktor, cuma mengumpulkan 247 poin di posisi kelima. Di klasemen pembalap, ceritanya tak lebih baik. Hanya Fabio Quartararo yang bertahan di sepuluh besar, sementara yang lain termasuk Rins di posisi 19 terjebak di papan tengah bahkan belakang.
Di sisi lain, rival-rival justru melesat. Aprilia, misalnya, perkembangannya luar biasa dan kini sejajar dengan Ducati. Honda juga menunjukkan progres. Menurut Rins, semua itu membuat Yamaha terlihat semakin tertinggal. "Zarco tampil kuat di awal musim, lalu Marini dan Mir di akhir musim. Mereka mencapai hasil yang luar biasa," katanya.
Lantas, apa akar masalahnya? Rins punya pandangan yang jelas. Menurutnya, mesin inline-4 yang selama ini jadi andalan Yamaha sudah mentok. "Mereka telah mencoba banyak hal. Mungkin batas pengembangannya sudah tercapai," sambung pembalap asal Spanyol itu. Intinya, berkeras mempertahankan konsep lama dinilai sia-sia. Tidak akan ada lompatan performa yang signifikan.
Artikel Terkait
Persija Hadapi Persijap Usai Pesta Malam Tahun Baru
Allano Lima Tertipu Belanja Online, Uang Rp 2,2 Juta Raib
Rosenior Jadi Kandidat Utama Gantikan Maresca di Chelsea
Liverpool Tersendat di Anfield, Gagal Tembus Pertahanan Leeds