LONDON – Keputusan itu akhirnya jatuh juga. Chelsea resmi memecat Enzo Maresca di Hari Tahun Baru, mengakhiri sebuah periode yang penuh gejolak. Dan kini, bursa pelatih mereka langsung memanas. Yang mengejutkan, nama utama yang mencuat bukanlah sosok pelatih top yang biasa bergentayangan di rumor. Melainkan Liam Rosenior, sang arsitek Strasbourg yang tiba-tiba masuk radar serius manajemen The Blues.
Tekanan terhadap Maresca sudah memuncak sejak akhir 2025. Performa tim benar-benar ambruk. Coba lihat catatan kelam mereka sepanjang Desember: cuma dua kemenangan dari delapan laga di semua ajang. Itu pun salah satunya cuma atas Cardiff City dari League One di Carabao Cup. Di Liga Inggris, situasinya lebih suram lagi. Hanya sekali mereka menang, itulah kemenangan tipis atas Everton di Stamford Bridge.
Padahal, kalau mundur sedikit ke musim sebelumnya, prestasi Maresca sebenarnya cukup gemilang. Dia membawa Chelsea juara UEFA Conference League dan Piala Dunia Antarklub, plus mengamankan tiket Liga Champions. Tapi rupanya, gelar-gelar itu tak cukup untuk meredam badai di dalam klub.
Lalu, apa yang jadi pemicu akhirnya? Titik baliknya ternyata datang dari sebuah pernyataan publik Maresca sendiri.
Jelang laga kontra Everton, pelatih asal Italia itu melontarkan sinyal ketidakpuasan. Dia terang-terangan mempertanyakan dukungan dari level manajemen klub.
Menurut laporan, komentar itu bikin jajaran petinggi Chelsea kaget dan tersinggung. Todd Boehly dan Behdad Eghbali, sang pemilik, dikabarkan merasa tidak bisa terima manajemen mereka dipertanyakan begitu terbuka. Kredit positif yang dibangun Maresca selama 18 bulan pertama pun habis dalam sekejap. Dan keputusan pun diambil dengan cepat.
Nah, setelah pintu keluar dibuka, Chelsea langsung sibuk mencari pengganti. Mereka butuh sosok yang bisa masuk tanpa mengobrak-abrik segalanya di tengah musim. Targetnya transisi cepat, biar peluang di Premier League dan Eropa tidak buyar. Di sinilah nama Liam Rosenior muncul.
Banyak yang mengernyit, memang. Tapi di internal klub, profil Rosenior justru dinilai cocok. Dia punya reputasi bagus membangun tim muda dan menerapkan gaya bermain progresif di Strasbourg. Itu semua sejalan dengan proyek jangka panjang Chelsea. Jadi, meski terasa seperti left-field choice, dia dianggap opsi yang realistis.
Sekarang, semua mata tertuju ke Stamford Bridge. Apakah manajemen benar-benar akan membawa pulang Rosenior ke Inggris? Atau jangan-jangan masih ada nama lain yang mengendap, siap menjadi kejutan berikutnya? Tunggu saja kelanjutannya.
Artikel Terkait
Serie A Jatuhkan Sanksi Tegas, CEO Juventus Diskors hingga Akhir Maret
Manchester United dan Chelsea Bantah Dekati Jurgen Klopp
Osimhen Buka Suara: Insiden TikTok dan Janji yang Diingkari Picu Kepergian dari Napoli
Persija Bangkit dari Kekalahan, Kalahkan Bali United 1-0 di Gianyar