Lagi-lagi, Stadion Kanjuruhan tak ramah untuk tuannya sendiri. Arema FC tumbang 0-1 dari Persita Tangerang, Selasa kemarin, dan itu sekaligus mencatatkan fakta pahit: enam laga kandang beruntun tanpa kemenangan. Padahal, lawan bermain dengan sepuluh pemain hampir sepanjang babak kedua setelah Andrean Benyamin Rindorino diusir wasit.
Kemenangan terakhir di kandang sendiri? Itu sudah lama, tepatnya 22 Agustus lalu saat mereka menaklukkan Bhayangkara FC. Sejak pertengahan September, aroma kemenangan di Kanjuruhan seolah menguap. Dari enam pertandingan itu, lima berakhir kekalahan dan satu imbang. Performa yang jelas-jelas bikin frustrasi.
Dan frustrasi itu meledak begitu laga usai. Puluhan suporter Aremania tak bisa menahan emosi. Mereka memblokade bus yang membawa pulang para pemain. Suasana langsung mencekam dengan cahaya flare, asap tebal dari bom, dan dentuman kembang api. Itu semua adalah bentuk protes yang keras, gamblang.
Cacian dan makian pun menghujani para pemain yang berusaha keluar dari stadion. Tak ada respons. Para pemain memilih bertahan di dalam bus, mencoba meneruskan perjalanan keluar dari kerumunan yang marah.
Bus itu sendiri baru bisa keluar perlahan sekitar pukul 18.24 WIB, dikawal ketat oleh para steward. Berbeda nasib dengan bus Persita yang keluar lebih dulu, sepuluh menit sebelumnya, tanpa hambatan berarti. Kontras yang semakin menyakitkan.
Artikel Terkait
Pelatih Hector Souto Akui Persiapan Timnas Futsal Indonesia untuk Piala AFF 2026 Sangat Mepet
FIGC Krisis, Paolo Maldini Disebut Sebagai Calon Utama Presiden Baru
Hodak Tegaskan Sembilan Laga Sisa Sebagai Final Penentu Gelar Juara
Bos Aprilia Peringatkan Timnya Jangan Lengah Meski Puncaki Klasemen MotoGP