Kanjuruhan Bergejolak, Aremania Murka Usai Derita Kekalahan Kandang Keenam

- Rabu, 31 Desember 2025 | 08:36 WIB
Kanjuruhan Bergejolak, Aremania Murka Usai Derita Kekalahan Kandang Keenam

Lagi-lagi, Stadion Kanjuruhan tak ramah untuk tuannya sendiri. Arema FC tumbang 0-1 dari Persita Tangerang, Selasa kemarin, dan itu sekaligus mencatatkan fakta pahit: enam laga kandang beruntun tanpa kemenangan. Padahal, lawan bermain dengan sepuluh pemain hampir sepanjang babak kedua setelah Andrean Benyamin Rindorino diusir wasit.

Kemenangan terakhir di kandang sendiri? Itu sudah lama, tepatnya 22 Agustus lalu saat mereka menaklukkan Bhayangkara FC. Sejak pertengahan September, aroma kemenangan di Kanjuruhan seolah menguap. Dari enam pertandingan itu, lima berakhir kekalahan dan satu imbang. Performa yang jelas-jelas bikin frustrasi.

Dan frustrasi itu meledak begitu laga usai. Puluhan suporter Aremania tak bisa menahan emosi. Mereka memblokade bus yang membawa pulang para pemain. Suasana langsung mencekam dengan cahaya flare, asap tebal dari bom, dan dentuman kembang api. Itu semua adalah bentuk protes yang keras, gamblang.

Cacian dan makian pun menghujani para pemain yang berusaha keluar dari stadion. Tak ada respons. Para pemain memilih bertahan di dalam bus, mencoba meneruskan perjalanan keluar dari kerumunan yang marah.

Bus itu sendiri baru bisa keluar perlahan sekitar pukul 18.24 WIB, dikawal ketat oleh para steward. Berbeda nasib dengan bus Persita yang keluar lebih dulu, sepuluh menit sebelumnya, tanpa hambatan berarti. Kontras yang semakin menyakitkan.

Di ruang konferensi pers, pelatih Arema, Marcos Santos, terlihat jelas kecewanya. Ia merasa timnya tak pantas kalah. "Semua tahu kami bermain bagus," ujarnya dengan nada getir.

"Kami mengontrol permainan, menguasai bola, dan punya 19 peluang tembakan. Mereka cuma punya dua. Satu digagalkan Lucas Frigeri, satunya lagi jadi gol."

Menurutnya, masalah utama ada pada transisi saat mereka unggul jumlah pemain. Arema memang mendominasi, tapi satu momen krusial justru dimanfaatkan lawan. Penguasaan bola Muhammad Rafli yang terlepas langsung dibalas Persita dengan serangan balik cepat yang mematikan.

"Situasinya, kita harusnya bisa kontrol pertandingan dengan lebih baik. Tapi transisi kami payah. Cuma dua kali mereka datang, sudah bisa bikin satu gol,"

Marcos juga mengakui ketumpulan lini serangnya. Kehilangan Dalberto sebagai pencetak gol utama terasa sekali dalam dua laga kandang terakhir. Dedik Setiawan sempat membawa harapan lewat bola yang masuk gawang, tapi wasit Asep Yandis membatalkannya usai cek VAR.

Ia pun meminta maaf kepada Aremania. "Kami seharusnya bisa lebih baik, tapi kami tak kasih yang terbaik untuk mereka," katanya. Tanggung jawab atas situasi ini ia serahkan sepenuhnya ke manajemen, sambil tetap meyakini pemainnya telah memberikan segalanya.

Akibat kekalahan ini, posisi Arema di klasemen sementara Super League merosot ke urutan 11. Mereka cuma mengumpulkan 18 poin. Di sisi lain, tiga poin berharga dari Kanjuruhan justru mendongkrak Persita ke papan atas, duduk di posisi lima besar dengan 25 poin. Sebuah perbedaan nasib yang tajam dari satu malam yang sama.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar