Kemenangan Pahit Garuda Muda: Hector Souto Murka atas Kekerasan di Final AFF

- Selasa, 30 Desember 2025 | 10:45 WIB
Kemenangan Pahit Garuda Muda: Hector Souto Murka atas Kekerasan di Final AFF

BANGKOK Kemenangan Timnas Futsal Indonesia U-16 di final Piala AFF 2025 seharusnya jadi momen bahagia. Tapi, bagi pelatih Hector Souto, rasa itu tercampur dengan kekecewaan yang dalam. Di balik gelar juara yang diraih dengan skor dramatis 4-3 atas Thailand, ada amarah yang ia luapkan secara terbuka. Souto dengan keras mengecam permainan kasar tuan rumah dan kepemimpinan wasit yang dianggap gagal total.

Pertandingan di Nonthaburi Hall, Bangkok, Senin sore itu, memang berjalan panas sejak menit pertama. Thailand langsung menekan dan unggul cepat lewat Phuwipadawat Thanawat. Tapi Garuda Muda tak tinggal diam. Hetson Messi membalas, menyamakan kedudukan menjadi 1-1.

Permainan terbuka terus berlanjut. Thailand kembali memimpin di menit ke-17, sebelum Faisal Gumilang menyelamatkan Indonesia jelang turun minum. Skor imbang 2-2 membuat babak kedua semakin menegangkan.

Dan di babak kedua, Indonesia tampil lebih garang. Dafa Ramadan dan sekali lagi Faisal Gumilang berhasil membobol gawang Thailand. 4-2 untuk Indonesia. Meski Thailand sempat memperkecil ketertinggalan, laga akhirnya berakhir 4-3 untuk kemenangan Garuda Muda.

Namun begitu, sorotan tak cuma pada skor. Laga ini diwarnai banyak insiden keras. Aksi-aksi pemain Thailand, menurut pengamatan, kerap melampaui batas. Dua momen paling mencolok: saat Ibnu Alan dijatuhkan dengan keras, dan Mukhammad Khisnulloh yang dipiting menggunakan kaki hingga terjatuh. Itu baru sedikit contoh dari tensi pertandingan yang nyaris tak terkendali.

Hector Souto pun meledak. Pelatih asal Spanyol itu tak bisa menerima bagaimana wasit membiarkan begitu banyak pelanggaran keras terjadi tanpa tindakan tegas.

“Maaf. Tingkat permainan keras dan aksi-aksi kekerasan yang dibiarkan di turnamen AFF U-19 dan U-16 benar-benar memuakkan,” tulisnya di Instagram pribadi (@souto.h).
“Sangat menyedihkan bahwa wasit FIFA tidak mampu mengendalikan dan memimpin pertandingan ini.”

Suasana hati di kubu Indonesia jelas kontras. Di sisi lain, pelatih kepala Timnas Futsal Indonesia U-16, Reka Cahya, memilih menyoroti hal yang berbeda. Baginya, kemenangan ini adalah buah dari kebersamaan dan kedisiplinan yang dijaga ketat sepanjang turnamen.

"Kami selalu bersama, dalam keadaan apapun kami selalu bersama. Kami juga selalu disiplin, entah itu dalam pertandingan, penginapan, dimanapun. Karena ini semua kerja keras dari semua elemen. Federasi, Staff, dan Pemain," ujar Reka.
"Menurut saya kunci kemenangan hari ini kami sama-sama saling mengingatkan, kerja keras, saling menguatkan dan bekerja sama. Serta do'a dari masyarakat Indonesia dan Keluarga."

Gelar juara AFF U-16 2025 ini, bagaimanapun, adalah bukti nyata. Mental anak-anak muda Indonesia tangguh, kualitas mereka tak diragukan. Mereka berhasil meraihnya meski harus berjuang di bawah tekanan berat, di kandang lawan, dalam sebuah final yang tak akan mudah dilupakan.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar