"Tidak semua jenis game aksi memiliki dampak buruk. Faktor kuncinya terletak pada bagaimana konten tersebut dikonsumsi, siapa penggunanya, dan seberapa efektif pengawasannya. Kebijakan pembatasan yang terlalu umum justru berpotensi mematikan nilai edukasi, kreativitas, dan potensi ekonomi dari industri game yang sangat besar," jelasnya lebih lanjut.
Ia juga mengakui bahwa pengawasan terhadap game online, yang bersifat lintas batas negara, merupakan tantangan yang tidak mudah. Untuk itu, diperlukan pendekatan yang multi-dimensional dan melibatkan berbagai pihak.
"Solusi yang diperlukan adalah penerapan sistem rating konten yang lebih ketat dan jelas, peningkatan literasi digital dalam kurikulum pendidikan, serta peran proaktif orang tua dan keluarga dalam mengawal aktivitas digital anak. Pengawasan tidak bisa hanya mengandalkan regulasi semata, tetapi harus diperkuat dengan edukasi berkelanjutan dan keterlibatan penuh dari lingkungan sosial anak," punggas Dave menutup pernyataannya.
Artikel Terkait
Polisi Tangkap Pelaku Pembakaran Kios di Kalibata, Oknum Diduga Terlibat Tak Dikecualikan
GBK Ramai Pagi-Pagi, Warga Serbu Lintasan Lari di Awal 2026
Prabowo Awali 2025 di Tengah Lumpur dan Harapan Korban Banjir Bandang
Prabowo Tegaskan: Izin Perusahaan Perusak Lingkungan Akan Dicabut