"Tidak semua jenis game aksi memiliki dampak buruk. Faktor kuncinya terletak pada bagaimana konten tersebut dikonsumsi, siapa penggunanya, dan seberapa efektif pengawasannya. Kebijakan pembatasan yang terlalu umum justru berpotensi mematikan nilai edukasi, kreativitas, dan potensi ekonomi dari industri game yang sangat besar," jelasnya lebih lanjut.
Ia juga mengakui bahwa pengawasan terhadap game online, yang bersifat lintas batas negara, merupakan tantangan yang tidak mudah. Untuk itu, diperlukan pendekatan yang multi-dimensional dan melibatkan berbagai pihak.
"Solusi yang diperlukan adalah penerapan sistem rating konten yang lebih ketat dan jelas, peningkatan literasi digital dalam kurikulum pendidikan, serta peran proaktif orang tua dan keluarga dalam mengawal aktivitas digital anak. Pengawasan tidak bisa hanya mengandalkan regulasi semata, tetapi harus diperkuat dengan edukasi berkelanjutan dan keterlibatan penuh dari lingkungan sosial anak," punggas Dave menutup pernyataannya.
Artikel Terkait
Gempa Magnitudo 5,7 Guncang Simeulue, BMKG Pastikan Tak Berpotensi Tsunami
Brimob Polda Metro Jaya Amankan Empat Orang dan 25 Gram Narkoba dalam Patroli Cipta Kondisi
Poco X8 Pro Series Terjual Lebih dari 30.000 Unit dalam 24 Jam di Indonesia
BMKG Prediksi El Nino Lemah hingga Moderat, Pemerintah Siapkan Antisipasi Kekeringan