"Tidak semua jenis game aksi memiliki dampak buruk. Faktor kuncinya terletak pada bagaimana konten tersebut dikonsumsi, siapa penggunanya, dan seberapa efektif pengawasannya. Kebijakan pembatasan yang terlalu umum justru berpotensi mematikan nilai edukasi, kreativitas, dan potensi ekonomi dari industri game yang sangat besar," jelasnya lebih lanjut.
Ia juga mengakui bahwa pengawasan terhadap game online, yang bersifat lintas batas negara, merupakan tantangan yang tidak mudah. Untuk itu, diperlukan pendekatan yang multi-dimensional dan melibatkan berbagai pihak.
"Solusi yang diperlukan adalah penerapan sistem rating konten yang lebih ketat dan jelas, peningkatan literasi digital dalam kurikulum pendidikan, serta peran proaktif orang tua dan keluarga dalam mengawal aktivitas digital anak. Pengawasan tidak bisa hanya mengandalkan regulasi semata, tetapi harus diperkuat dengan edukasi berkelanjutan dan keterlibatan penuh dari lingkungan sosial anak," punggas Dave menutup pernyataannya.
Artikel Terkait
Vietnam Undang Paus Leo XIV, Kunjungan Bersejarah Diantisipasi
Wamenkominfo: AI Kunci Genjot Produktivitas dan Keberlanjutan Pertanian
Letnan Jepang Bertahan di Hutan Filipina 29 Tahun Usai Perang Dunia II
Bareskrim Lacak Aset Tersangka Penipuan Dana Syariah Rp2,4 Triliun