Polrestabes Palembang menghentikan penyelidikan kasus dugaan penganiayaan yang menimpa seorang siswa SDN 150 Palembang bernama Fatiyah. Keputusan penghentian laporan ini diambil setelah pemeriksaan medis tidak menemukan bukti adanya kekerasan pada tubuh anak tersebut.
Kasus ini awalnya mencuat karena kondisi mata Fatiyah yang terlihat lebam dan memerah, sehingga memunculkan kecurigaan bahwa ia menjadi korban penganiayaan. Namun, hasil pemeriksaan kesehatan justru mengungkap fakta yang berbeda. Fatiyah didiagnosis menderita pertusis, yang juga dikenal sebagai batuk rejan.
Kombes Harryo Sugihhartono, Kapolrestabes Palembang, menjelaskan bahwa pemeriksaan menyeluruh tidak menemukan indikasi kekerasan. "Dari hasil pemeriksaan tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan di tubuh korban. Korban ternyata mengalami gejala pertusis atau batuk rejan," jelasnya.
Lebih lanjut diungkapkan bahwa batuk rejan yang diderita Fatiyah telah berlangsung selama satu bulan. Kondisi batuk yang terus-menerus inilah yang menyebabkan munculnya bintik-bintik merah di area mata, yang kemudian berkembang sehingga mata terlihat lebam dan merah.
"Kondisi mata yang merah dan lebam pada Fatiyah awalnya terlihat seperti bekas pukulan, padahal sebenarnya merupakan gejala dari penyakit pertusis yang dideritanya," tambah Harryo.
Berdasarkan hasil penyelidikan dan visum medis yang lengkap, kepolisian memastikan tidak ada unsur tindak pidana dalam kasus ini. Dengan demikian, laporan yang dibuat oleh orang tua Fatiyah secara resmi telah dihentikan proses penyelidikannya.
Artikel Terkait
Jemaah Haji Patuna Travel Laksanakan Tawaf Wada, Harap Bisa Kembali ke Tanah Suci
Selebgram ZNM Akui Efek Samping Gas Tertawa Whip Pink: Sakit Kepala hingga Lumpuh Sementara
Pelatih Timnas Basket U18 Putri Indonesia Tegaskan Pemain Wajib Patuh pada Rencana Permainan Lawan Filipina
Bocah 6 Tahun Ditemukan Tewas Setelah Hanyut di Sungai Cianten Bogor