Fenomena Awan Hitam & Busa Misterius di Subang Terungkap, Ternyata Ini Pemicunya!

- Kamis, 30 Oktober 2025 | 17:40 WIB
Fenomena Awan Hitam & Busa Misterius di Subang Terungkap, Ternyata Ini Pemicunya!

Misteri Awan Hitam dan Busa di Subang Terungkap, Diduga Sisa Kebakaran Karawang

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Barat berhasil mengungkap asal-usul fenomena awan hitam pekat disertai busa putih yang viral di langit Desa Tanjungrasa, Kecamatan Patokbeusi, Subang. Hasil investigasi sementara menunjukkan bahwa material tersebut diduga kuat berasal dari kebakaran sebuah perusahaan.

Kepala DLH Jawa Barat, Ai Saadiyah Dwidaningsih, menjelaskan karakteristik busa yang jatuh berdasarkan laporan warga. "Busa yang sempat jatuh itu tidak berbau, sudah disiram air, dan memiliki karakteristik seperti minyak. Gelembungnya juga tidak mudah pecah," ujarnya.

Meskipun tim DLH tidak menemukan sisa busa saat verifikasi lapangan karena material tersebut telah menghilang, penelusuran tetap dilanjutkan untuk memastikan sumber pencemaran yang sempat meresahkan warga tersebut.

Keterkaitan dengan Kebakaran di Karawang

Ai Saadiyah mengungkapkan titik terang dari fenomena ini. Dari hasil penelusuran, munculnya busa pada Jumat (24/10/2025) pagi sangat berkaitan dengan insiden kebakaran di Karawang yang terjadi pada Kamis (23/10/2025) malam.

Kebakaran tersebut terjadi di PT Dame Alam Sejahtera, sebuah perusahaan pengangkut, pengumpul, dan pengelola limbah B3 skala nasional. "Dugaan sementara, busa tersebut merupakan bagian dari sisa kebakaran yang terbawa angin hingga wilayah Subang," jelas Ai.

Kondisi Cuaca Memperkuat Dugaan

Kondisi cuaca di Subang menjadi faktor pendukung teori ini. Beberapa hari sebelum kejadian, kawasan Subang tidak diguyur hujan. Kondisi kering ini memungkinkan partikel sisa kebakaran dari Karawang untuk terbawa angin dalam jarak yang cukup jauh, melintas wilayah hingga ke Subang.

Investigasi lebih lanjut masih terus dilakukan oleh DLH Jawa Barat untuk memastikan kebenaran dari dugaan sementara ini dan dampak lingkungan yang mungkin ditimbulkan.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar