Di tengah peresmian program Biodiesel B50, Presiden Prabowo Subianto justru berbicara tentang seekor kepiting di dalam ember. Metafora itu, yang sekilas terdengar ganjil, menyiratkan pesan mendalam: bahwa kemajuan teknologi tidak akan berarti jika budaya sosial justru saling menjatuhkan.
Sejarah mencatat, banyak bangsa gagal bukan karena kekurangan sumber daya atau teknologi, melainkan karena gagal membangun budaya yang memungkinkan inovasi bertumbuh. Mesin bisa dibeli, kilang bisa dibangun, dan modal bisa dicari. Namun, kepercayaan, kolaborasi, dan keberanian mendukung keberhasilan sesama tidak bisa diproduksi di pabrik. B50 adalah contoh nyata.
Indonesia adalah produsen minyak sawit terbesar di dunia, menyumbang sekitar 55-60 persen produksi global. Sawit telah menjadi penopang kehidupan jutaan petani, penyumbang devisa negara, dan bahan baku berbagai industri dari pangan, kosmetik, oleokimia, hingga energi terbarukan. Kini, melalui B50, sawit memasuki babak baru: tidak lagi sekadar menghasilkan minyak goreng, tetapi menjadi bagian dari strategi geopolitik. Setiap liter biodiesel yang menggantikan solar fosil berarti mengurangi ketergantungan impor energi, memperkuat ketahanan energi nasional, dan meningkatkan nilai tambah komoditas dalam negeri. Program ini juga telah menghemat devisa negara dalam jumlah besar melalui penurunan impor solar.
Tidak banyak negara yang memiliki kemewahan seperti ini: sumber daya hayati yang mampu menjadi fondasi transisi energi. Namun, di balik keberhasilan itu tersimpan paradoks. Semakin strategis posisi sawit, semakin keras perdebatan yang mengiringinya. Di luar negeri, sawit sering diposisikan sebagai simbol deforestasi dan ancaman keanekaragaman hayati. Di dalam negeri, hampir setiap kebijakan terkait sawit memunculkan polarisasi. Ada yang melihat sawit sebagai penyelamat ekonomi, ada pula yang memandangnya sebagai sumber masalah lingkungan. Padahal, seperti teknologi lainnya, sawit bukan persoalan hitam-putih. Yang menentukan bukan tanamannya, melainkan tata kelolanya. Oleh karena itu, B50 seharusnya tidak dibaca sebagai kemenangan sawit, melainkan sebagai ujian bagi tata kelola Indonesia.
Pertanyaan di Balik B50
Pertanyaan sesungguhnya bukanlah apakah Indonesia memiliki cukup minyak sawit untuk memenuhi kebutuhan biodiesel. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah apakah peningkatan kebutuhan itu akan dipenuhi melalui ekspansi lahan atau peningkatan produktivitas. Pilihan pertama tampak mudah: membuka lahan baru dapat meningkatkan produksi dalam waktu relatif singkat, tetapi membawa konsekuensi ekologis, sosial, dan politik yang tidak kecil.
Pilihan kedua jauh lebih menantang, tetapi juga lebih berkelanjutan. Indonesia masih memiliki ruang besar untuk meningkatkan produktivitas kebun rakyat. Di banyak sentra produksi, hasil panen petani masih di bawah potensi yang sebenarnya dapat dicapai. Peremajaan tanaman belum merata, adopsi benih unggul belum optimal, kesehatan tanah terus menurun di sejumlah wilayah, sementara perubahan iklim menghadirkan tekanan baru berupa kekeringan, banjir, dan meningkatnya gangguan organisme pengganggu tanaman.
Artinya, masa depan B50 sesungguhnya tidak ditentukan di kilang biodiesel, melainkan di kebun. Ia ditentukan oleh keberhasilan riset menghasilkan varietas yang lebih adaptif, oleh kemampuan penyuluhan menjembatani ilmu pengetahuan dengan praktik lapangan, oleh kesehatan tanah yang mampu menopang produktivitas jangka panjang, dan oleh kebijakan yang mendorong petani menjadi pelaku utama transformasi, bukan sekadar pemasok bahan baku. Di titik ini, persoalannya tidak lagi sekadar agronomi atau energi, melainkan persoalan budaya.
Inovasi tidak pernah tumbuh dalam ruang yang dipenuhi rasa curiga. Tidak ada teknologi yang berkembang jika setiap gagasan baru lebih dahulu dicemooh daripada diuji. Tidak ada negara yang menjadi pemimpin bioekonomi apabila keberhasilan peneliti, petani, industri, atau pemerintah selalu diperlakukan sebagai ancaman yang harus dicari celanya. Kritik tentu mutlak diperlukan. Tanpa kritik, kebijakan publik kehilangan mekanisme koreksi. Namun, kritik yang sehat bertujuan memperbaiki, bukan berharap kegagalan. Perbedaan ini sering kali tipis, tetapi sangat menentukan.
Bangsa-bangsa yang berhasil membangun industri berbasis inovasi memiliki satu kesamaan: mereka mampu mengubah keberhasilan individu menjadi aset kolektif. Sebuah temuan ilmiah tidak berhenti di laboratorium, melainkan diterjemahkan menjadi teknologi. Keberhasilan satu petani menjadi bahan pembelajaran bagi petani lain. Prestasi sebuah perusahaan menjadi pemicu lahirnya inovasi berikutnya.
Sebaliknya, masyarakat yang terjebak dalam mentalitas "ember kepiting" justru menghabiskan terlalu banyak energi untuk saling menarik ke bawah. Setiap langkah maju dipandang dengan prasangka. Setiap keberhasilan dicurigai memiliki agenda tersembunyi. Akibatnya, energi kolektif habis untuk mempertahankan posisi, bukan menciptakan lompatan.
Mungkin karena itulah Presiden memilih metafora tersebut pada peluncuran B50. Ia mengingatkan bahwa tantangan terbesar Indonesia bukan lagi menemukan teknologi. Kita memiliki ilmuwan, perguruan tinggi, industri, dan sumber daya alam yang memadai. Tantangan terbesar justru memastikan bahwa ekosistem sosial kita mampu memberi ruang bagi inovasi untuk bertumbuh.
B50 pada akhirnya bukan sekadar kebijakan energi. Ia adalah cermin yang memperlihatkan pilihan besar Indonesia. Apakah kita akan memanfaatkan keunggulan sebagai produsen sawit terbesar di dunia untuk membangun bioekonomi yang berdaya saing melalui produktivitas, inovasi, dan keberlanjutan? Atau kita akan terus terjebak dalam perdebatan yang tidak pernah selesai, hingga peluang itu diambil oleh negara lain yang lebih siap mengelolanya?
Keluar dari ember kepiting berarti keluar dari cara berpikir yang selalu memosisikan keberhasilan sebagai ancaman. Keluar dari ember kepiting berarti berani percaya bahwa kemajuan satu sektor dapat menjadi pengungkit bagi kemajuan sektor lain, bahwa kritik harus melahirkan solusi, dan bahwa ilmu pengetahuan layak menjadi fondasi pembangunan.
B50 mungkin hanya menunjukkan angka 50 persen pada tangki bahan bakar. Namun, sesungguhnya ia sedang menguji sesuatu yang jauh lebih besar daripada campuran biodiesel. Ia sedang menguji apakah Indonesia siap meninggalkan budaya yang menghambat langkah sesamanya dan bergerak sebagai bangsa yang mampu mengubah keunggulan alam menjadi keunggulan peradaban. Pasalnya, perjalanan menuju kemandirian energi tidak dimulai dari kilang biodiesel. Perjalanan itu dimulai ketika kita berhenti menarik sesama kembali ke dalam ember.
Artikel Terkait
Ratusan Santri Masuk Istana, Lihat Langsung Tempat Kerja Presiden
Sahroni Apresiasi Pertemuan Kapolri, Jaksa Agung, dan Panglima TNI, Sebut Bukti Soliditas Lembaga
Prabowo Tak Mau Campuri Kasus Dugaan Korupsi Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
Setelah 30 Tahun Terabaikan, Irigasi di Banten Dibangun dengan Dana Rp 985 Miliar