Golkar Dorong Penanaman Nilai Pancasila Lewat Media Digital dan AI

- Rabu, 15 Juli 2026 | 01:30 WIB
Golkar Dorong Penanaman Nilai Pancasila Lewat Media Digital dan AI

Ketua Fraksi Golkar DPR M Sarmuji mendorong generasi muda untuk menumbuhkan kembali nilai-nilai Pancasila, bukan sekadar menghafalkannya. Menurutnya, nilai-nilai itu harus disalurkan dengan menyesuaikan perkembangan zaman digital dan kecerdasan buatan.

Hal itu disampaikan Sarmuji dalam Seminar Wawasan Kebangsaan bertajuk 'Pancasila Bukan Dibumikan, Tapi Ditumbuhkan' di UPNVJ, Selasa (14/7/2026). Ia mengawali pemaparannya dengan mengingatkan bahwa Pancasila bukan barang titipan dari luar yang perlu diturunkan ke bumi Indonesia, melainkan sudah lahir dari bumi Indonesia sendiri. Dengan begitu, menurutnya, ungkapan 'membumikan kembali Pancasila' adalah keliru.

Ia mengutip pernyataan Proklamator Sukarno dalam buku Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat karya Cindy Adams. 'Aku tidak mengatakan, bahwa aku menciptakan Pancasila. Apa yang kukerjakan hanyalah menggali jauh ke dalam bumi kami tradisi-tradisi kami sendiri dan aku menemukan lima butir mutiara indah,' demikian bunyi pernyataan Bung Karno yang disitir Sarmuji.

"Kalau Bung Karno saja bilang begitu, ya berarti merawat Pancasila itu artinya merawat sumber galiannya, budaya dan kepercayaan asli yang hidup di berbagai daerah, bukan sekadar menghafalkan lima sila," kata Sarmuji.

Sekretaris Jenderal Partai Golkar itu menekankan pentingnya merevitalisasi saluran penanaman nilai Pancasila. Dahulu, nilai-nilai luhur bangsa diwariskan lewat dongeng, tembang, dan wayang. Kini, menurutnya, diperlukan padanan baru yang setara, seperti media sosial, kecerdasan buatan, film, musik, dan berbagai medium digital lainnya. Medium-medium itu, sebutnya, dapat menjadi sarana menumbuhkan kembali nilai-nilai Pancasila, bukan hanya dipandang sebagai ancaman.

"Persoalannya bukan menolak teknologinya, tapi bagaimana nilai luhur kita bisa dikemas semenarik konten yang selama ini justru mengalahkannya," ujarnya.

Ia mendorong perumusan strategi kebudayaan baru yang melibatkan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dan lembaga negara terkait, dengan peran sebagai perumus arah dan fasilitator. "Tugas negara idealnya memfasilitasi ekosistem, mendukung kreator, industri film dan musik, serta pengembang teknologi, supaya nilai luhur hidup lewat cerita yang dipilih sendiri oleh masyarakat," kata Sarmuji.

"Merevitalisasi Pancasila, pada akhirnya, berarti merevitalisasi sumber dan saluran-saluran itu sekaligus untuk konteks zaman sekarang," pungkasnya.

Seminar ini turut dihadiri Sekretaris Fraksi Partai Golkar MPR RI Ferdiansyah dan Rektor UPNVJ Anter Venus, serta diikuti para mahasiswa.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags