Marinus Gea: Persoalan Bangsa Bukan Kekurangan Pengetahuan, Tapi Keteladanan

- Kamis, 02 Juli 2026 | 16:50 WIB
Marinus Gea: Persoalan Bangsa Bukan Kekurangan Pengetahuan, Tapi Keteladanan

Anggota MPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Marinus Gea, menegaskan bahwa nilai-nilai Pancasila harus dihadirkan dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar dihafal. Hal ini disampaikannya dalam kegiatan Penguatan Relawan Kebajikan yang digelar Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Kampus Universitas Insan Pembangunan Indonesia, Tangerang.

Menurut Marinus, Indonesia dibangun di atas kesepakatan luhur bernama Pancasila yang menjadi titik temu kebangsaan, rumah bersama, sekaligus jalan tengah yang mempersatukan keberagaman. Ia menekankan bahwa Pancasila tidak boleh berhenti pada pemahaman atau hafalan semata, melainkan harus diwujudkan dalam tindakan nyata.

"Pancasila harus dihidupi. Pancasila harus diwujudkan. Pancasila harus dirasakan manfaatnya oleh masyarakat," ujar Marinus dalam keterangannya, Kamis (2/7/2026). "Inilah yang saya sebut sebagai Kebajikan Pancasila," sambungnya.

Marinus menjelaskan bahwa Kebajikan Pancasila merupakan perwujudan nilai-nilai Pancasila dalam perilaku sehari-hari, mulai dari cara memimpin, melayani, hingga memperlakukan sesama. "Sesungguhnya ukuran keberhasilan Pancasila bukanlah seberapa banyak orang menghafal lima sila, melainkan seberapa banyak nilai lima sila itu hidup dalam kehidupan bangsa," katanya.

Tantangan Implementasi Nilai Pancasila

Dalam kesempatan itu, Marinus juga menyoroti pentingnya Sosialisasi Empat Pilar MPR RI yang meliputi Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Namun, ia mengingatkan bahwa persoalan terbesar bangsa saat ini bukan lagi pemahaman, melainkan implementasi nilai-nilai tersebut.

"Kita menyaksikan masih adanya intoleransi. Masih adanya korupsi. Masih adanya ketidakadilan sosial. Masih adanya penyalahgunaan teknologi digital. Masih adanya budaya saling mencurigai dan saling menyerang di ruang publik," kata Marinus.

Ia menilai kondisi itu menunjukkan bahwa bangsa Indonesia tidak kekurangan pengetahuan, tetapi kekurangan keteladanan dan figur-figur penggerak kebajikan. "Artinya, persoalan kita bukan kekurangan pengetahuan. Persoalan kita adalah kekurangan keteladanan. Kekurangan penggerak kebajikan. Kekurangan warga negara yang bersedia menjadi contoh," ucapnya.

Karena itu, Marinus menilai kehadiran Relawan Kebajikan Pancasila menjadi langkah penting untuk mengubah pendekatan pembinaan ideologi dari sekadar penyampaian materi menjadi gerakan pembentukan karakter. "Dari sekadar penyampaian materi menjadi gerakan kebajikan sosial. Dari sekadar transfer pengetahuan menjadi transformasi karakter. Dari sekadar memahami nilai menjadi menghidupi nilai. Di sinilah lahir gagasan Relawan Kebajikan Pancasila," terangnya.

Marinus menegaskan bahwa Relawan Kebajikan Pancasila bukan organisasi untuk kepentingan politik elektoral atau kelompok tertentu, melainkan gerakan moral kebangsaan yang menghimpun warga negara untuk menjadi teladan dalam mengamalkan Pancasila. "Perubahan bangsa tidak selalu dimulai dari kekuasaan. Perubahan bangsa sering kali dimulai dari keteladanan," jelasnya.

"Karena itu sesungguhnya kekuatan bangsa bukan terletak pada gedung-gedung yang megah, bukan pada teknologi yang canggih, bukan pada sumber daya alam yang melimpah. Kekuatan bangsa terletak pada karakter manusianya," lanjutnya.

Menjelang visi Indonesia Emas 2045, Marinus mengingatkan bahwa bangsa yang maju bukan hanya yang memiliki kekayaan, melainkan juga yang berkarakter, berintegritas, menjunjung keadilan, dan memiliki kepedulian sosial. "Indonesia tidak membutuhkan lebih banyak orang yang hanya berbicara tentang kebaikan. Indonesia membutuhkan lebih banyak orang yang melakukan kebaikan. Indonesia tidak membutuhkan lebih banyak orang yang hanya menghafal Pancasila. Indonesia membutuhkan lebih banyak orang yang menghidupi Pancasila," pungkasnya.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags