Wali Kota Yawata, Shoko Kawata, mengumumkan akan mengambil cuti melahirkan, sebuah keputusan yang memicu perdebatan di tengah masyarakat Jepang. Ia adalah wali kota petahana pertama yang mengambil langkah tersebut.
Kawata menyampaikan rencananya kepada dewan kota di Yawata, sebuah kota di wilayah barat Jepang. Ia meyakini wakilnya mampu menjalankan pemerintahan dengan lancar selama ia tidak bertugas. "Saya tidak menyangka hal ini akan menjadi begitu kontroversial," ujar Kawata, yang saat ini berusia 35 tahun.
"Masih ada anggapan bahwa dalam dunia kerja, seseorang harus mengorbankan kehidupan pribadinya demi mengabdikan diri pada karier," imbuhnya. Kawata menambahkan bahwa ia mendapat kesan banyak orang di dunia maya mulai bisa menerima keputusannya.
"Bagi laki-laki, proses melahirkan tidak berdampak secara fisik pada tubuh mereka, jadi secara teknis mereka bisa terus bekerja sembari mengesampingkan kehidupan pribadi. Namun bagi perempuan, secara fisik, hal itu sama sekali tidak mungkin dilakukan," katanya.
Karena ini merupakan kasus pertama bagi seseorang di posisinya, Kawata menyusun rencananya sendiri. Mengikuti standar nasional, ia berencana kembali bekerja pada bulan Desember. Mengingat ini adalah anak pertamanya, ia tidak bisa memastikan apa yang akan dihadapi, namun berharap keputusannya dapat menginspirasi perempuan lain untuk terjun ke dunia politik di Jepang.
"Jika semakin banyak perempuan yang terlibat dalam kepemimpinan dan pengambilan keputusan, kita akan mampu menerapkan lebih banyak sistem sosial yang mendukung keseimbangan antara karier dan kehidupan keluarga," pungkasnya.
Artikel Terkait
Khofifah Luncurkan Pelita ASN untuk Cegah Perceraian di Kalangan Aparatur
IHSG Melemah 2,31% pada Pembukaan Perdagangan Selasa Pagi
Modifikasi Ekstrem: Daihatsu Ceria Disulap Jadi Mira Turbo Ala Jepang
Polisi Bekuk Penjual Obat Terlarang Berkedok Warung Kopi di Bekasi