Gelombang panas yang melanda sejumlah negara di Eropa sejak akhir Juni telah menyebabkan lebih dari 1.300 kematian berlebih, menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang dikutip BBC. Suhu ekstrem yang memecahkan rekor memicu kebakaran hutan dan meningkatkan risiko kesehatan, sementara di Indonesia, cuaca panas yang mulai terasa bukanlah gelombang panas.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa suhu panas di Indonesia tidak dapat dikategorikan sebagai gelombang panas. Indonesia yang berada di wilayah tropis memiliki karakteristik suhu relatif stabil sepanjang tahun, berbeda dengan negara subtropis atau empat musim. Gelombang panas, menurut BMKG, umumnya terjadi di lintang menengah hingga tinggi dengan kenaikan suhu jauh melampaui rata-rata klimatologis selama beberapa hari berturut-turut karakteristik yang tidak ditemukan di Indonesia.
BMKG menjelaskan, suhu panas yang dirasakan di Indonesia lebih dipengaruhi oleh posisi semu Matahari, berkurangnya tutupan awan, dan kondisi atmosfer yang mendukung peningkatan suhu permukaan. Selama musim kemarau, cuaca cerah membuat suhu siang hari terasa lebih terik.
Apa Itu Gelombang Panas?
World Meteorological Organization (WMO) mendefinisikan gelombang panas sebagai periode cuaca dengan suhu sangat tinggi dibandingkan kondisi normal di suatu wilayah, berlangsung selama beberapa hari berturut-turut. Fenomena ini dapat terjadi di daratan maupun wilayah perkotaan dengan efek pulau panas. National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) menambahkan bahwa tidak ada ambang suhu tunggal yang berlaku untuk semua negara; gelombang panas ditentukan berdasarkan suhu yang jauh lebih tinggi dari rata-rata daerah setempat selama setidaknya dua hingga tiga hari.
Menurut WMO, gelombang panas biasanya terjadi ketika sistem tekanan udara tinggi bertahan lama, menjebak udara panas di dekat permukaan bumi. Suhu terus meningkat pada siang hari dan tetap tinggi pada malam hari. Perubahan iklim akibat pemanasan global juga meningkatkan frekuensi, durasi, dan intensitas gelombang panas di berbagai belahan dunia.
Dampak Mematikan di Eropa
WHO mencatat lebih dari 1.300 kematian berlebih sejak 21 Juni 2026 akibat suhu menyengat di Eropa. Sejumlah negara mencatat rekor suhu tertinggi sepanjang sejarah. WHO menilai krisis ini sebagai ancaman kesehatan serius yang membutuhkan respons cepat dan terkoordinasi. Organisasi PBB tersebut bekerja sama dengan negara anggota untuk memperkuat kesiapsiagaan, pencegahan, dan sistem layanan kesehatan dalam menghadapi suhu ekstrem.
Di Prancis, gelombang panas sejak akhir Juni menyebabkan sekitar 1.000 kematian tambahan, menurut Kementerian Kesehatan setempat. Suhu memecahkan rekor pada 23 Juni, mendorong lonjakan kematian harian hingga lebih dari 1.400 kasus, jauh di atas rata-rata normal. Lansia menjadi kelompok paling terdampak, mencakup 85% korban. Kematian meningkat di rumah sakit, panti jompo, dan rumah, dengan lonjakan signifikan di rumah mencapai 40%. Wilayah berstatus peringatan merah mengalami dampak paling parah.
Otoritas setempat menegaskan data tersebut masih bersifat sementara dan baru mencakup sekitar 60% laporan kematian nasional.
Artikel Terkait
GAIKINDO Apresiasi Kebijakan Pemerintah yang Jaga Industri Otomotif Nasional
Bocah 4 Tahun Tewas Terperosok ke Lubang Proyek Futsal di Tebet
Polda Banten Gagalkan Peredaran Narkotika Etomidate dalam Kemasan Vape, Satu Kurir Ditangkap
Harga Emas Dunia Melemah Meski Dolar AS Terkoreksi