Kinerja perusahaan menjadi faktor yang paling berpengaruh terhadap ketahanan bank-bank milik negara yang tergabung dalam Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). Temuan itu merupakan hasil disertasi Abiwodo, praktisi perbankan, yang berhasil meraih gelar doktor dari Program Kajian Strategik dan Global, Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan Universitas Indonesia (UI).
Dalam sidang promosi doktor di Kampus UI Salemba, Jakarta, Abiwodo memaparkan disertasinya yang berjudul "Pengaruh Regulasi, Adaptasi, Aset, dan Kecepatan terhadap Ketahanan Bank yang Dimediasi oleh Kinerja Perusahaan dan Risiko (Studi Kasus pada Bank Himbara)." Penelitian ini mengulas pengaruh regulasi, kemampuan adaptasi organisasi, kekuatan aset, serta kecepatan pengambilan keputusan terhadap ketahanan bank dengan mempertimbangkan peran kinerja perusahaan dan pengelolaan risiko sebagai variabel mediasi.
"Industri perbankan saat ini menghadapi perubahan yang berlangsung sangat cepat. Ketahanan bank tidak hanya ditentukan oleh besarnya modal, tetapi juga oleh kemampuan organisasi beradaptasi, merespons perubahan, serta mengelola risiko secara efektif," kata Abiwodo dalam pemaparannya, Senin, 29 Juni 2026.
Riset dilakukan menggunakan pendekatan kuantitatif terhadap 333 responden yang berasal dari jajaran pimpinan manajerial Bank Himbara, yakni BRI, Bank Mandiri, BNI, dan BTN. Analisis data menggunakan metode Structural Equation Modeling-Partial Least Squares (SEM-PLS).
Hasil penelitian menunjukkan kinerja perusahaan menjadi faktor yang memberikan pengaruh paling besar terhadap ketahanan bank. Faktor tersebut diikuti oleh kecepatan organisasi, pengelolaan risiko, serta kemampuan adaptasi dalam menghadapi perubahan. Selain itu, penelitian juga menemukan pengaruh kecepatan organisasi terhadap ketahanan bank semakin kuat apabila didukung sistem manajemen risiko yang baik. Regulasi dan kekuatan aset juga terbukti memberikan kontribusi signifikan terhadap ketahanan perbankan melalui peningkatan kinerja perusahaan maupun penguatan pengelolaan risiko.
Menurut Abiwodo, temuan tersebut memberikan perspektif bahwa strategi memperkuat ketahanan bank perlu dilakukan secara menyeluruh dan tidak hanya bertumpu pada aspek permodalan. "Di tengah meningkatnya kompleksitas tantangan ekonomi global, transformasi digital, serta perubahan regulasi, bank perlu membangun organisasi yang lebih adaptif, cepat mengambil keputusan, dan memiliki sistem manajemen risiko yang kuat agar mampu menjaga keberlanjutan bisnis," jelas dia.
Ia berharap hasil penelitiannya dapat menjadi referensi bagi regulator, pelaku industri perbankan, maupun kalangan akademisi dalam merumuskan strategi peningkatan daya tahan sektor keuangan nasional. Dengan keberhasilan tersebut, Abiwodo berharap hasil risetnya tidak berhenti sebagai karya akademik semata, melainkan dapat menjadi masukan bagi penguatan industri perbankan nasional agar semakin resilien dalam menghadapi tantangan ekonomi global di masa mendatang.
Artikel Terkait
Gelombang Panas Landa Slovakia dan Hungaria, Suhu Tembus 41 Derajat Celsius
BMKG Imbau Waspada Cuaca Ekstrem di Empat Provinsi Meski Musim Kemarau Mulai Meluas
Bawaslu: Perkembangan AI Ubah Pola Pelanggaran Pemilu, Hukum Acara Harus Beradaptasi
Pembahasan Pendahuluan RAPBN 2027 Rampung, Pemerintah dan DPR Sepakati Laporan Panja