BMKG: Puncak Musim Kemarau Juli 2026 Mulai Terjadi di 83 Zona Musim

- Senin, 29 Juni 2026 | 11:25 WIB
BMKG: Puncak Musim Kemarau Juli 2026 Mulai Terjadi di 83 Zona Musim

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau mulai terjadi pada Juli 2026 di sejumlah wilayah Indonesia. Informasi ini menjadi acuan bagi masyarakat dan pemerintah daerah untuk mengantisipasi dampak musim kering.

Berdasarkan pemutakhiran prediksi musim kemarau 2026 yang dirilis BMKG pada Juni lalu, puncak kemarau pada Juli diperkirakan melanda 83 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 12,26 persen wilayah Indonesia. Prediksi ini merupakan hasil pembaruan berdasarkan perkembangan kondisi atmosfer dan dinamika iklim terbaru.

Wilayah yang diperkirakan mencapai puncak kemarau pada Juli meliputi sebagian Sumatra, sebagian kecil Kalimantan, sebagian kecil Pulau Jawa, Nusa Tenggara Timur bagian selatan, Sulawesi Barat bagian utara, Sulawesi Tengah bagian barat, sebagian kecil Maluku, Papua Barat Daya bagian selatan, Papua Barat bagian tengah, dan Papua bagian timur.

Puncak musim kemarau tidak terjadi serentak di seluruh Indonesia. BMKG mencatat sebaran wilayah yang mengalami puncak kemarau akan bergeser dari Juli hingga September. Pada Agustus 2026, puncak kemarau diperkirakan terjadi di 369 ZOM (48,84 persen wilayah Indonesia). Memasuki September, jumlahnya berkurang menjadi 169 ZOM (25,41 persen). Artinya, sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami puncak kemarau pada Agustus sebelum berangsur berakhir di sejumlah daerah pada September.

BMKG menjelaskan, puncak musim kemarau adalah periode ketika curah hujan mencapai tingkat terendah dalam satu musim kemarau di suatu wilayah. Pada fase ini, sebagian besar daerah mengalami hari tanpa hujan yang lebih panjang dengan udara cenderung lebih kering. Karakteristik puncak kemarau dapat berbeda di setiap daerah karena pengaruh kondisi geografis dan dinamika atmosfer. Dampak yang umum terjadi antara lain berkurangnya ketersediaan air, meningkatnya potensi kekeringan meteorologis, serta bertambahnya risiko kebakaran hutan dan lahan, terutama di daerah gambut atau vegetasi kering.

BMKG mengimbau masyarakat mulai mengantisipasi dampak musim kemarau, seperti menjaga ketersediaan air, mengurangi risiko gangguan kesehatan, serta meminimalkan dampak pada sektor pertanian dan sumber daya air. Lembaga itu juga mengingatkan bahwa prediksi musim dapat berubah mengikuti dinamika atmosfer, sehingga masyarakat disarankan memantau pembaruan informasi cuaca dan iklim melalui kanal resmi BMKG.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags