Gempa Magnitudo 6,5 Guncang Kepulauan Sangihe, BMKG Pastikan Tak Berpotensi Tsunami

- Jumat, 26 Juni 2026 | 22:00 WIB
Gempa Magnitudo 6,5 Guncang Kepulauan Sangihe, BMKG Pastikan Tak Berpotensi Tsunami

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,5 yang sebelumnya terverifikasi 6,8 mengguncang Tahuna, Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, Jumat (26/6/2026) sore. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan gempa dangkal ini tidak berpotensi tsunami, meskipun getarannya terasa kuat di sejumlah wilayah.

Hasil analisis BMKG menunjukkan episenter gempa berada di laut pada koordinat 5,40° Lintang Utara dan 125,23° Bujur Timur. Lokasi pusat gempa itu berjarak sekitar 200 kilometer arah barat laut Tahuna, dengan kedalaman 31 kilometer. Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menjelaskan bahwa berdasarkan posisi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa ini tergolong gempa bumi dangkal.

“Gempa bumi ini dipicu aktivitas subduksi lempeng laut Filipina. Hasil analisis menunjukkan gempa memiliki mekanisme pergerakan geser (strike-slip),” kata Wijayanto dalam keterangan resminya.

Guncangan dirasakan di sejumlah daerah di Sulawesi Utara dengan intensitas bervariasi. Berdasarkan estimasi peta tingkat guncangan (shakemap) BMKG, skala V MMI getaran dirasakan oleh hampir semua penduduk terjadi di Kepulauan Marore, Kepulauan Sangihe. Skala IV MMI, yang berarti getaran dirasakan oleh orang banyak di dalam rumah, melanda Kendahe (Kepulauan Sangihe) dan Miangas (Kepulauan Talaud). Sementara itu, skala III–IV MMI tercatat di Kota Tahuna, Kota Melonguane, dan Kota Ondong. Di Kota Manado, getaran berada pada skala III MMI, yakni getaran dirasakan nyata dalam rumah seperti ada truk lewat.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan resmi mengenai kerusakan bangunan akibat guncangan tersebut.

BMKG mengungkapkan bahwa gempa magnitudo 6,5 ini merupakan rangkaian gempa susulan dari gempa utama berkekuatan M 7,7 yang mengguncang Mindanao pada 8 Juni 2026 lalu. Hasil monitoring BMKG hingga Jumat malam pukul 19.00 WIB mencatat telah terjadi 577 kali aktivitas gempa susulan di kawasan tersebut, dengan magnitudo terbesar mencapai M 6,7.

Masyarakat di wilayah terdampak diimbau untuk tetap tenang, menghindari bangunan yang retak atau rusak akibat gempa, serta tidak terpengaruh oleh isu-isu hoaks yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags