MURIANETWORK.COM - Partai Bhumjaithai pimpinan Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul berhasil meraih kemenangan telak dalam pemilu cepat yang digelar pada Minggu, 8 Februari 2026. Kemenangan ini, berdasarkan hasil sementara, menempatkan partai penguasa pada posisi strategis untuk membentuk pemerintahan koalisi baru. Pemilihan yang diwarnai isu nasionalisme dan sengketa perbatasan dengan Kamboja ini diharapkan dapat membawa stabilitas politik setelah periode ketegangan yang singkat.
Kemenangan Telak dan Peta Koalisi
Dengan hampir 80 persen suara telah dihitung, hasil sementara menunjukkan Bhumjaithai unggul jauh di atas Partai Rakyat yang progresif, disusul oleh Partai Pheu Thai. Analisis awal dari lembaga survei seperti Institut Nasional untuk Administrasi Pembangunan (NIAD) memproyeksikan Bhumjaithai akan meraih 140 hingga 150 kursi di parlemen. Kemenangan dengan selisih yang signifikan ini dinilai akan mempermudah proses perundingan koalisi dan mengurangi potensi kebuntuan politik.
Langkah Anutin menyelenggarakan pemilu cepat di tengah konflik perbatasan akhir tahun lalu, hanya kurang dari 100 hari setelah ia menjabat, kini terbukti menjadi keputusan yang berhasil. Analis politik melihat langkah itu sebagai upaya cerdik untuk mengapitalisasi sentimen nasionalisme yang sedang meluap di kalangan pemilih.
Respons dari Partai Oposisi
Di sisi lain, Partai Rakyat yang sempat memimpin jajak pendapat dengan janji reformasi struktural, mengakui kekalahannya. Pemimpin partai, Natthaphong Rueangpanyawut, menyatakan partainya tidak akan bergabung dengan pemerintahan yang dipimpin Bhumjaithai, namun juga tidak berencana membentuk blok koalisi tandingan.
"Jika Bhumjaithai dapat membentuk pemerintahan, maka kami harus menjadi oposisi," tegas Natthaphong dalam konferensi persnya.
Artikel Terkait
Arus Balik Lebaran Memuncak, 52 Ribu Penumpang Tiba di Jakarta dalam Sehari
Hizbullah Tolak Gencatan Senjata, Serangan Israel ke Lebanon Kian Meluas
Paus Leo XIV Terima Liberty Medal 2026 atas Perjuangan Kebebasan Beragama
BlackRock Peringatkan Harga Minyak US$100-150 Bisa Picu Resesi Global