Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut potensi perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran bisa membawa angin segar bagi ekonomi global, termasuk Indonesia. Jika terwujud, situasi itu dinilai mampu memperbaiki rantai pasok dunia dan meredakan tekanan harga energi yang selama ini membubung akibat ketegangan geopolitik.
Namun, efek positif itu tidak akan terasa dalam waktu dekat. Airlangga mengingatkan bahwa masih ada fase ketidakpastian, terutama dalam hal distribusi dan kontrak dagang global. Dampak ke Indonesia, menurutnya, lebih banyak akan terlihat pada harga minyak, laju inflasi, serta keputusan investasi yang hingga kini masih cenderung wait and see.
Dari sisi pasar keuangan, pembahasan juga menyentuh posisi Bursa Efek Indonesia yang masih dikategorikan sebagai Emerging Market oleh Morgan Stanley Capital International. Dinamika aliran modal dan kebijakan short selling turut menjadi sorotan dalam diskusi tersebut.
Pemerintah, di sisi lain, terus berupaya memperkuat daya beli masyarakat. Langkah yang ditempuh antara lain melalui penyaluran bantuan sosial dan stabilisasi harga pangan. Bank Indonesia juga disebut tetap konsisten menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui penyesuaian suku bunga.
Di tingkat kawasan, ASEAN dinilai masih menjadi wilayah yang relatif stabil dan menarik bagi investasi global. Sementara itu, proses aksesi Indonesia menuju Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) terus berjalan sebagai bagian dari strategi memperkuat posisi ekonomi Tanah Air di level global.
Artikel Terkait
Jadwal Imsak dan Buka Puasa Surabaya Hari Ini, Rabu 24 Juni 2026
KBRI Kuala Lumpur Pastikan Identitas WNI Asal Aceh Korban Pembunuhan di Malaysia, Pelaku Ditangkap
Serangan Rusia Tewaskan Sembilan Warga Ukraina, Enam di Antaranya di Wilayah Dnipropetrovsk
Tornado Langka Terjang Pegunungan Ural Rusia, 16 Luka-Luka dan Ratusan Rumah Rusak