Dokter: Risiko Diabetes pada Anak dari Orang Tua Penderita Bisa Dikendalikan dengan Gaya Hidup Sehat

- Selasa, 16 Juni 2026 | 15:30 WIB
Dokter: Risiko Diabetes pada Anak dari Orang Tua Penderita Bisa Dikendalikan dengan Gaya Hidup Sehat

Mendengar vonis diabetes melitus pada orang tua sering kali menjadi momen yang mencekam bagi seorang anak. Bukan semata karena kekhawatiran terhadap kondisi orang tua, melainkan juga kecemasan yang mengarah pada diri sendiri: apakah nasib yang sama akan menimpa saya? Pertanyaan semacam itu hampir selalu hadir di benak mereka yang memiliki riwayat keluarga dengan penyakit tersebut.

Jawabannya, menurut dr. Ngabila Salama, praktisi kesehatan masyarakat, tidak sesederhana dugaan banyak orang. Ia menegaskan bahwa setiap individu masih memiliki kendali atas risiko yang diwariskan secara genetik. Hal itu ia sampaikan dalam sebuah wawancara khusus yang tayang di kanal YouTube Cumicumi.

Menurut dr. Ngabila, langkah pencegahan dapat dimulai dari hal-hal mendasar. Mulai dari menghentikan kebiasaan buruk, meningkatkan aktivitas fisik, menerapkan pola makan seimbang, hingga memastikan waktu istirahat yang cukup. Semua faktor itu saling berkaitan dan menentukan seberapa besar peluang seseorang terkena diabetes, meskipun faktor genetik sudah ada sejak lahir.

“Pertama, host dari segi genetik aku berpeluang besar untuk jadi diabetes melitus karena punya orang tua yang DM atau punya riwayat genetik di keluarga DM. Host genetik ya host. Nah, habis itu adalah bagaimana environment lingkungan aku sehari-hariku,” jelas dr. Ngabila.

Ia kemudian merinci kebiasaan buruk yang kerap menjadi pemicu. “Kalau aku ditambah pula kebiasaan buruk. Apa itu kebiasaan buruk? Tidak menerapkan pola hidup sehat cerdik. Ya, enyahkan asap rokok, aku merokok. Rajin aktivitas fisik, aku tidak aktivitas fisik. 6.000 langkah minimal per hari. Diet yang seimbang. Aku melebihi makan gula itu lebih dari 4 sendok makan per hari. Padahal kata Kemenkes, gula itu maksimal 4 sendok makan per hari termasuk makan besar dan semua cemilan-cemilan serta minuman-minumannya. Diet yang seimbang. Istirahat cukup. Aku kurang tidur 7 sampai 8 jam sehari. Kelola stres. Aku stres. Nah, itulah faktornya diabetes. Jadi ada host, ada environment.”

Di sisi lain, dr. Ngabila juga menekankan pentingnya pemeriksaan kesehatan secara berkala bagi mereka yang memiliki orang tua penyintas diabetes. Ia menganjurkan agar tes kesehatan dilakukan lebih sering dibandingkan masyarakat pada umumnya.

“...Dan satu lagi kalau pola hidup sehat cerdik C-nya kan cek kesehatan rutin. Kan kita sudah punya CKG tuh 1 tahun sekali, dia harus ceknya 6 bulan sekali. Dan bahkan dia bisa periksa HBA1C itu bisa diperiksa 3 bulan sekali. HBA1C itu adalah kadar gula yang ada di dalam hemoglobin atau sel darah kita dan itu tidak bisa menipu,” lanjutnya.

Dalam kesempatan yang sama, dr. Ngabila mengingatkan seluruh masyarakat, khususnya mereka yang memiliki faktor genetik kuat, untuk benar-benar mengubah gaya hidup menuju pola yang lebih sehat dan aktif berolahraga.

“Jadi saran saya kalau orang yang punya genetik kuat diabetes, satu benar-benar modifikasi gaya hidup dari segi diet, olahraga, hiduplah yang sehat dan cek kesehatannya harus ekstra,” pungkasnya.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar