Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat 4,12 persen ke posisi 6.254 pada perdagangan Senin (15/6), namun di balik penguatan signifikan tersebut, investor asing justru mencatatkan aksi jual bersih atau net foreign sell senilai Rp107,13 miliar. Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan bahwa dari seluruh saham yang diperdagangkan, sebanyak 603 saham berhasil menguat, sementara 125 saham mengalami koreksi dan 90 saham lainnya stagnan.
Volume transaksi pada hari itu tercatat sangat deras, mencapai 54,53 miliar saham dengan frekuensi perdagangan sebanyak 3,25 juta kali. Nilai transaksi total menyentuh angka Rp30,11 triliun, sementara kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp10.927 triliun. Meskipun demikian, dominasi investor domestik masih sangat terasa dengan porsi 65,42 persen, sedangkan asing hanya menguasai 34,58 persen.
Menariknya, aksi jual asing pada Senin lalu terkonsentrasi pada emiten-emiten yang terafiliasi dengan Grup Bakrie. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menjadi sasaran utama dengan nilai jual bersih mencapai Rp335,6 miliar, diikuti oleh PT Darma Henwa Tbk (DEWA) sebesar Rp115 miliar. Selain itu, asing juga melepas saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) senilai Rp74,6 miliar, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) sebesar Rp5,3 miliar, dan PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) sebesar Rp748,1 juta.
Tidak hanya Grup Bakrie, investor asing juga tercatat membuang saham Grup Sinarmas, yaitu PT Dian Swastika Sentosa Tbk (DSSA), dengan nilai Rp184,1 miliar. Raksasa otomotif PT Astra International Tbk (ASII) pun tak luput dari aksi jual, dengan nilai pelepasan mencapai Rp144,6 miliar.
Di sisi lain, aliran dana asing justru deras masuk ke sektor perbankan. Berdasarkan data net foreign buy, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menjadi primadona dengan akumulasi pembelian bersih sebesar Rp543,1 miliar. Disusul oleh PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang mencatatkan pembelian bersih Rp203,7 miliar, dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) sebesar Rp89,1 miliar.
Head of Research and Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menilai bahwa penguatan IHSG saat ini lebih didorong oleh faktor technical rebound. Meskipun demikian, ia mengakui bahwa pergerakan tersebut tidak sepenuhnya tanpa dukungan fundamental.
“Mulai terlihat tanda-tanda bahwa kebijakan moneter Bank Indonesia yang lebih tegas serta deeskalasi ketegangan geopolitik turut membantu menstabilkan nilai tukar rupiah dan yield obligasi. Meski demikian, arus modal asing masih cenderung selektif,” ujar Rully dalam keterangan resminya.
Sebelumnya, pasar keuangan domestik memang menghadapi tekanan berat akibat pelemahan nilai tukar rupiah, kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN), serta meningkatnya ketidakpastian global. Kondisi ini mendorong kenaikan premi risiko Indonesia yang pada akhirnya membebani valuasi pasar saham.
Menurut Rully, keberlanjutan penguatan IHSG akan sangat bergantung pada perkembangan sejumlah indikator makro. Ia menekankan bahwa pergerakan nilai tukar rupiah dan yield obligasi pemerintah menjadi dua variabel kunci yang akan terus dipantau investor.
Ia menambahkan, apabila rupiah mampu bertahan menguat dan yield SBN tenor 10 tahun turun secara bertahap dari level puncaknya di atas 7,3 persen menuju kisaran yang lebih rendah, premi risiko Indonesia akan menurun. “Kondisi tersebut akan membuka ruang bagi masuknya kembali aliran dana asing ke pasar obligasi maupun saham,” kata dia.
Artikel Terkait
Gempa Magnitudo 6,7 Guncang Palu, BMKG Pastikan Tidak Berpotensi Tsunami
Bangunan Mirip Garasi di Trotoar Bandung Dibongkar Satpol PP, RW Klaim Tempat Parkir Motor Sampah
Pemerintah Kota Batam Siapkan Aturan Ketat Penggunaan Gawai bagi Anak di Sekolah dan Rumah
Patroli Dini Hari Brimob di Bekasi, Satu Remaja Diamankan Terkait Penyalahgunaan Obat Keras