Kecepatan menjadi ciri khas yang membedakan para pedagang bubur dari Tambun, Bekasi, saat mereka melintasi jalanan ibu kota setiap pagi. Bukan balapan liar yang tengah viral di media sosial, melainkan fenomena yang oleh warganet dijuluki “Bubur Racing Tambun.” Alih-alih kecaman, kemunculan mereka justru menuai kelakar dan simpati karena dianggap bergegas demi menyelamatkan para pekerja Jakarta dari serangan asam lambung akibat melewatkan sarapan.
Para pedagang ini mudah dikenali dari modifikasi kendaraan mereka. Sepeda motor yang dikendarai telah diubah sedemikian rupa sehingga gerobak berisi bubur membonceng di jok belakang, menciptakan pemandangan yang khas di pagi hari. Muammar Rizky, atau yang akrab disapa Amar, seorang pemuda berusia 25 tahun, menuturkan kisah di balik tradisi yang melegenda ini. Menurutnya, ketepatan waktu adalah harga mati yang tidak bisa ditawar.
“Itu, paling telat jam 06.00 harus udah sampai di tempat dagang. Kalau lebih dari jam 06.00, nanti pelanggan-pelanggan yang berangkat kerja, sekolah, atau lain sebagainya nggak jadi beli,” ujar Amar.
Amar tampil modis, khas generasi Z, dengan kaus hitam bergaya streetwear, celana jeans longgar, serta sepatu kulit hitam yang tebal. Pemuda asal Desa Satriajaya, Kecamatan Tambun Utara, Kabupaten Bekasi itu bahkan berjualan menggunakan motor sport berwarna merah. Di bagian belakang kendaraannya, terpasang gerobak bubur dengan spanduk bertuliskan “Bubur Racing” julukan yang kini melekat erat dengan para pedagang Bubur Tambun.
Tangan Amar bergerak cekatan saat menyiapkan bubur beserta pelengkapnya. Ia menuangkan kecap asin, lalu menyusun suwiran ayam, cakwe, seledri, bawang goreng, hingga tongcai sawi putih kering yang selalu menjadi incaran. “Tongcai! Itu, sih yang ngebedain dari bubur-bubur ayam kebanyakan,” ucap Rindy, 27 tahun, salah satu pelanggan setia yang mengaku selalu menantikan cita rasa khas tersebut.
Dalam beberapa pekan terakhir, Amar mulai mangkal di satu titik tetap setelah lima tahun berkeliling di Komplek Permata Timur, Pondok Kelapa, Jakarta Timur. Ia mengaku dua dandang Bubur Tambun racikannya selalu habis tak tersisa. Saat akhir pekan atau hari libur, penjualannya bahkan meningkat hingga total 100 porsi ludes terjual. “Sedangkan (ketika) mangkal, kalau pelanggan mau beli bubur pagi-pagi, ya dia bisa langsung datang. Jadi, waktunya pas (dan) lebih efisien juga,” ungkapnya.
Secara visual, Bubur Tambun menyerupai bubur ala Tionghoa maupun Bandung. Teksturnya padat, tanpa kuah kaldu kuning, dan ditaburi tongcai yang memberikan sensasi renyah. Meski sekilas terlihat kental, resep turun-temurun milik Amar membuat racikannya tidak terlalu encer maupun pekat. “Malah makin lama (dibiarkan) yang penting disiapin dari awal, terus nggak diaduk-aduk (dan tetap) ditaruh di tempat styrofoam atau mangkok itu malah tambah kental,” bebernya.
Artikel Terkait
Film Mitologi Yunani Kembali ke Layar Lebar, ‘The Odyssey’ Versi Baru Siap Tayang 2026
Negara Mayoritas Muslim Pun Berlakukan Larangan Hijab dan Niqab, dari Tajikistan hingga Kosovo
Polisi Tangkap Pelaku Pembunuhan Wanita di Hotel Kebayoran Baru dalam Kurun 24 Jam
Trump Sehat Prima, Dokter Sarankan Turunkan Berat Badan