Harga Minyak Dunia Turun di Tengah Ketidakpastian Negosiasi Damai AS-Iran

- Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:45 WIB
Harga Minyak Dunia Turun di Tengah Ketidakpastian Negosiasi Damai AS-Iran

Harga minyak mentah dunia mengalami penurunan pada Jumat, 29 Mei 2026, di tengah ketidakpastian pasar yang menanti kepastian kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Pelaku pasar mencermati pernyataan Presiden Donald Trump yang mengumumkan akan menggelar pertemuan dengan para pejabatnya di Ruang Situasi Gedung Putih untuk mengambil keputusan akhir terkait perundingan tersebut.

Penurunan harga minyak mentah bulan ini diperkirakan menjadi yang pertama sejak konflik Timur Tengah pecah pada akhir Februari lalu. Harapan akan berakhirnya permusuhan dan terjaminnya keamanan lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz di bawah pengawasan angkatan laut Iran menjadi faktor utama yang mendorong tren penurunan tersebut.

Mengacu pada data perdagangan, harga minyak mentah Brent berjangka untuk kontrak Agustus yang menjadi patokan global turun 0,9 persen menjadi 91,87 dolar AS per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk kontrak Juli juga melemah 0,9 persen ke level 88,09 dolar AS per barel.

Trump, dalam pernyataannya pada Jumat, menyebutkan bahwa kesepakatan yang tengah dirumuskan mencakup persetujuan Teheran untuk tidak memiliki senjata atau bom nuklir. Selain itu, kesepakatan juga akan memuat pembukaan kembali Selat Hormuz tanpa biaya tol dan penghapusan seluruh ranjau di jalur perairan strategis tersebut. Blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan dan garis pantai Iran, menurut Trump, akan dicabut setelah kesepakatan tercapai.

“Kapal-kapal yang terjebak di Selat karena blokade angkatan laut kita yang luar biasa dan belum pernah terjadi sebelumnya, yang sekarang akan dicabut, dapat memulai proses pulang ke rumah,” tulis Trump di platform Truth Social.

Ia menambahkan bahwa AS akan membantu Iran dalam menggali uranium yang diperkaya atau yang disebutnya sebagai “debu nuklir” dan menghancurkannya. “Tidak ada uang yang akan ditukar, sampai pemberitahuan lebih lanjut. Hal-hal lain, yang jauh kurang penting, telah disepakati. Saya akan bertemu sekarang, di Ruang Situasi, untuk membuat keputusan akhir,” kata Trump.

Namun, Kantor Berita Fars Iran membantah klaim tersebut. Mengutip sumber-sumber yang terinformasi, Fars menyebut pernyataan Trump sebagai “campuran kebenaran dan kebohongan.” Pihak Iran menegaskan tidak ada klausul yang mewajibkan Iran membuka kembali selat tanpa memungut biaya. Kantor berita itu juga menyatakan tidak ada penyebutan tentang penyerahan material nuklir Iran dalam kesepakatan tersebut.

Media pemerintah Iran, mengutip juru bicara Kementerian Luar Negeri Esmaeil Baqaei, mengatakan belum ada negosiasi yang terjadi pada tahap ini terkait program nuklir Teheran. Sementara itu, The New York Times melaporkan bahwa pertemuan Trump di Ruang Situasi berlangsung selama dua jam dan berakhir tanpa keputusan, berdasarkan keterangan seorang pejabat senior pemerintahan.

Kesepakatan damai antara AS dan Iran akan menjadi terobosan terbesar dalam konflik yang telah berlangsung sejak akhir Februari, ketika AS dan Israel melancarkan serangan bersama terhadap Iran. Sejak awal April, semua pihak telah terikat dalam gencatan senjata yang berkepanjangan sementara negosiasi terus berjalan.

Di sisi lain, penutupan Selat Hormuz yang berkepanjangan telah menyebabkan gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah. Lonjakan harga minyak dan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral untuk mengatasi guncangan inflasi menjadi konsekuensi yang tak terhindarkan.

Data ekonomi AS pada Kamis menunjukkan bahwa indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi inti (PCE) indikator inflasi pilihan Federal Reserve naik dengan laju tahunan tercepat pada April sejak November 2023. Angka tersebut masih jauh di atas target dua persen bank sentral. Data itu juga mengungkapkan bahwa pengeluaran konsumen terpukul akibat tingginya harga bensin yang dipicu perang Iran. Harga bensin di AS telah melonjak lebih dari 50 persen sejak awal konflik.

Analis dari JPMorgan, Michael Feroli dan Abiel Reinhart, meneliti dampak harga energi terhadap inflasi PCE inti. “Kami menemukan bahwa dampak kenaikan harga energi terhadap inflasi pengeluaran pribadi inti relatif kecil, seperti yang diperkirakan. Regresi deret waktu menunjukkan bahwa kenaikan harga minyak sebesar 50 persen akan menaikkan harga PCE inti sekitar 0,3-0,4 persen,” kata para analis tersebut.

“Dalam beberapa skenario yang masuk akal untuk jalur harga minyak di masa depan, PCE inti rata-rata 10-15 basis poin lebih tinggi selama tahun 2026-2027,” tambah mereka. “Kami memperkirakan secara terpisah bahwa input minyak bumi mencakup sekitar 1,0 persen dari biaya konsumsi pribadi inti, sehingga dampak penuh akan menunjukkan bahwa kenaikan harga minyak sebesar 50 persen akan menghasilkan kenaikan harga PCE inti sebesar 0,5 persen.”

Meskipun jalur air vital tersebut ditutup, harga minyak telah merosot pada Mei di tengah transit aman sejumlah besar kapal melalui titik rawan tersebut di bawah pengawasan Korps Garda Revolusi Islam Iran. Harapan akan kesepakatan perdamaian juga terus menekan harga minyak mentah. Harga Brent diperkirakan turun lebih dari 19 persen pada Mei, penurunan terbesar sejak Maret 2020. Sementara itu, minyak mentah WTI menuju penurunan bulanan lebih dari 16 persen, terburuk sejak April 2025.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar