Golkar Apresiasi Pemulangan 9 WNI dari Global Sumud Flotilla, Kecam Keras Penyekapan Israel

- Minggu, 24 Mei 2026 | 19:35 WIB
Golkar Apresiasi Pemulangan 9 WNI dari Global Sumud Flotilla, Kecam Keras Penyekapan Israel

Partai Golkar memberikan apresiasi kepada pemerintah atas keberhasilan memulangkan sembilan warga negara Indonesia yang menjadi relawan Global Sumud Flotilla 2026, setelah sebelumnya ditangkap oleh otoritas Israel di perairan internasional. Di sisi lain, partai berlambang pohon beringin itu mengecam keras tindakan penyekapan yang dinilai melanggar hukum humaniter internasional.

Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar, Ace Hasan Syadzily, menyampaikan pernyataan tersebut di kantor DPP Partai Golkar, Jakarta Barat, pada Minggu (24/5/2026). Menurutnya, apa pun dalih yang digunakan, tindakan Israel yang menyekap para aktivis kemanusiaan dan jurnalis tidak dapat dibenarkan karena bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar hukum humaniter internasional.

“Saya kira prinsip dasarnya bahwa apa pun tindakan yang dilakukan oleh Israel yang melakukan penyekapan terhadap para aktivis kemanusiaan dan jurnalis itu adalah tindakan yang tidak dibenarkan, karena menyalahi prinsip-prinsip hukum humaniter internasional,” ujar Ace.

Ia juga menilai langkah diplomatik yang diambil pemerintah sudah sangat baik, terutama melalui peran aktif Kedutaan Besar Republik Indonesia di Turki. Upaya itu dinilai efektif dalam menyelamatkan dan memulangkan para WNI yang sempat disekap.

Ace menekankan bahwa para aktivis yang menjalankan misi kemanusiaan perlu mendapat advokasi dan bantuan. Para jurnalis yang turut serta dalam misi tersebut juga harus dilindungi, khususnya terkait tugas mereka untuk menyampaikan informasi yang sesungguhnya dari Gaza.

“Setidaknya, keinginan mereka ke Gaza adalah untuk membantu bantuan kemanusiaan dan menulis atau mengabarkan tentang informasi bagaimana sesungguhnya yang terjadi di Palestina,” katanya.

Lebih lanjut, Ace mendorong agar hak-hak para WNI yang sempat ditangkap dipenuhi secara penuh. Menurutnya, mereka perlu mendapatkan pendampingan, terutama jika mengalami kekerasan selama dalam penyekapan.

“Kalau misalnya mengalami kekerasan, tentu harus ada konsekuensi yang harus diterima akibat daripada itu,” ujarnya.

Sementara itu, Ace juga menyoroti peran Board of Peace (BoP) dalam menjaga perdamaian di Gaza. Ia menilai keberadaan lembaga tersebut perlu dikaji ulang, mengingat situasi geopolitik yang semakin kompleks akibat perang antara Israel-Amerika Serikat dan Iran.

“Pemerintah sendiri sebetulnya sudah terus mencoba melakukan upaya menjaga perdamaian, salah satunya dengan bergabung bersama BoP. Namun, hingga saat ini keberadaan BoP perlu dikaji lebih lanjut karena situasi geopolitik akibat perang Israel-Amerika versus Iran yang membuat keadaan semakin tidak menentu,” jelasnya.

Peristiwa penangkapan sembilan WNI ini bermula ketika pasukan Israel mulai mencegat sejumlah kapal bantuan kemanusiaan Global Sumud Flotilla pada Senin (18/5). Kapal-kapal itu dicegat secara bertahap, dan sejumlah relawan ditangkap. Seluruh relawan, termasuk sembilan WNI, akhirnya dibebaskan pada Kamis (21/5) waktu setempat. Mereka kemudian diterbangkan ke Turki menggunakan pesawat yang disewa otoritas setempat sebelum akhirnya dipulangkan ke Indonesia.

Kesembilan relawan tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, sekitar pukul 16.25 WIB pada Minggu (24/5). Mereka tampak mengenakan keffiyeh, syal khas Palestina. Kerabat para WNI menyambut kedatangan mereka dengan spanduk dan bendera Palestina, serta bersorak saat para relawan keluar dari gedung terminal.

Berdasarkan laporan Global Peace and Crisis Initiative (GPCI), berikut daftar sembilan WNI yang sempat ditangkap tentara Israel: Herman Budianto Sudarson (GPCI-Dompet Dhuafa) dari Kapal Zapyro, Ronggo Wirasanu (GPCI-Dompet Dhuafa) dari Kapal Zapyro, Andi Angga Prasadewa (GPCI-Rumah Zakat) dari Kapal Josef, Asad Aras Muhammad (GPCI-Spirit of Aqso) dari Kapal Kasr-1, Hendro Prasetyo (GPCI-SMART 171) dari Kapal Kasr-1, Bambang Noroyono (Republika) dari Kapal BoraLize, Thoudy Badai Rifan Billah (Republika) dari Kapal Ozgurluk, Andre Prasetyo Nugroho (Tempo) dari Kapal Ozgurluk, serta Rahendro Herubowo dari Tim Media.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler