Sebuah angka mencolok mengawali peringatan dini yang kini kembali bergema: 50 juta jiwa. Itulah jumlah korban jiwa akibat El Niño Super pada tahun 1877, ketika kekeringan dahsyat melanda India, Cina, Brasil, dan Afrika Timur secara simultan selama tiga tahun berturut-turut. Para sejarawan mencatatnya sebagai bencana lingkungan paling mematikan dalam sejarah umat manusia. Jika peristiwa serupa terjadi saat ini dengan jumlah penduduk dunia yang jauh lebih besar, proyeksi korban jiwa bisa melonjak hingga 250 juta orang.
Angka-angka tersebut bukan dimaksudkan untuk menimbulkan kepanikan, melainkan untuk membangun kesadaran bahwa El Niño bukan sekadar istilah cuaca yang muncul di layar kaca. Fenomena ini adalah kekuatan alam yang mampu mengubah jalannya peradaban. Kini, tanda-tanda kembalinya fenomena itu mulai terlihat jelas, dan pertanyaan yang mengemuka bukan lagi tentang kemungkinan terjadinya, melainkan kapan tepatnya akan tiba.
Suhu permukaan laut di Pasifik Khatulistiwa telah menunjukkan peningkatan signifikan, mengindikasikan kondisi yang mengarah pada pembentukan El Niño. NOAA Climate Prediction Center memperkirakan fenomena ini akan mulai terbentuk antara Mei hingga Juli 2026 dengan probabilitas mencapai 82 persen. Angka tersebut bahkan melonjak hingga 96 persen untuk periode Desember 2026 hingga Februari 2027. Badan Meteorologi Dunia (WMO) juga menyatakan keyakinan tinggi terhadap penguatan fenomena ini, menegaskan bahwa prediksi tersebut merupakan konsensus ilmiah global, bukan sekadar proyeksi dari satu lembaga.
Di dalam negeri, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau 2026 akan berlangsung lebih kering dan lebih panjang dari kondisi normal. Intensitas El Niño diperkirakan berada pada level lemah hingga moderat dengan peluang 50 hingga 80 persen, meskipun kemungkinan kecil untuk berkembang menjadi kategori kuat tetap ada. BMKG menegaskan bahwa tingkat kepercayaan terhadap prediksi intensitas ini akan semakin tajam setelah hasil analisis pada Mei 2026 dirilis. Artinya, waktu yang tersisa untuk bersiap masih ada, meski sempit, dan tidak boleh disia-siakan.
Sejak April 2026, sebagian wilayah Indonesia telah memasuki musim kering dengan puncaknya diprediksi terjadi pada Agustus. Jawa, Sumatera bagian selatan, Bali, hingga Nusa Tenggara termasuk dalam zona yang diperkirakan akan merasakan tekanan paling signifikan. Bagi 280 juta penduduk Indonesia, dampak ini bukan sekadar angka dalam laporan iklim, melainkan ancaman yang sangat konkret terhadap kehidupan sehari-hari.
“Dampak El Niño tidak hanya menyentuh sektor lingkungan, tetapi juga menjalar ke sektor kesehatan dan ketahanan pangan. Perubahan cuaca yang ekstrem berpotensi meningkatkan kerawanan penyakit, terutama yang berkaitan dengan dehidrasi, gangguan pernapasan, serta penurunan daya tahan tubuh,” ujar Prof. Nurlina dari Unismuh Makassar pada 20 April 2026.
Sementara itu, El Niño tidak beroperasi dalam ruang hampa. Fenomena ini terhubung erat dengan sistem iklim global yang kini jauh lebih tidak stabil dibandingkan dekade-dekade sebelumnya. Ketika es di Arktik mencair, dua umpan balik utama terjadi: permukaan laut yang lebih gelap menyerap lebih banyak radiasi matahari dikenal sebagai efek albedo dan permafrost yang mencair melepaskan metana dalam jumlah besar, gas yang 80 kali lebih kuat dari karbon dioksida dalam jangka pendek. WMO memperingatkan bahwa laut dan atmosfer yang lebih hangat menyediakan energi dan kelembapan lebih besar, sehingga meningkatkan potensi cuaca ekstrem seperti gelombang panas dan hujan lebat. Pemanasan Arktik, dengan kata lain, bukan hanya urusan orang di kutub, melainkan juga petani di Karawang dan nelayan di Makassar.
Indonesia, sebagai negara agraris, sangat bergantung pada stabilitas pola hujan untuk menjaga ketahanan pangannya. Kekeringan di sawah dan ladang dapat merusak tanaman, mengurangi hasil panen, dan mendorong harga pangan naik. BMKG sendiri memproyeksikan El Niño 2026 tidak akan lebih kuat dari El Niño 2019, namun hal itu bukanlah kabar gembira. El Niño 2019 sudah cukup menyengsarakan jutaan petani dengan kemarau panjang dan kebakaran hutan yang meluas. Di tengah harga pangan global yang sudah tegang, setiap persen penurunan produksi padi nasional dapat berujung pada krisis yang langsung dirasakan di meja makan rakyat.
Pada level individu, masyarakat diimbau untuk hemat air, memaksimalkan penampungan dan sumur resapan, memperbanyak asupan air putih, serta menggunakan pelindung saat beraktivitas di luar ruangan. Namun, tindakan individual saja tidak akan cukup. Pengelolaan sumber daya air yang lebih baik melalui pembangunan waduk, embung, dan sistem irigasi yang efisien, serta penggunaan varietas tanaman tahan kekeringan, merupakan langkah struktural yang harus segera diperkuat. Demikian rekomendasi yang disampaikan oleh ADRA Indonesia.
Pemerintah pusat dan daerah pun dituntut untuk bergerak sekarang, bukan menunggu hingga Agustus tiba dan panik bersama-sama. Deteksi dini kekeringan di level kabupaten, diversifikasi pangan, dan perlindungan lahan gambut menjadi tiga prioritas yang tidak bisa ditunda. El Niño 1877 menjadi tragedi karena dunia tidak tahu apa yang akan datang. Sebaliknya, tragedi terbesar dari El Niño 2026 jika terjadi dalam skala serius bukanlah karena ketiadaan data. BMKG telah merilis prediksi, NOAA dan WMO telah bersuara, dan para ilmuwan telah menuliskan peringatan mereka. Pertanyaan yang tersisa adalah apakah kita memiliki kemauan kolektif untuk bertindak sebelum bencana tiba. Sejarah tidak pernah memberi kesempatan kedua, dan alam, sudah pasti, tidak akan menunggu kita siap.
Artikel Terkait
Kementerian Haji Pastikan Infrastruktur Kesehatan di Armuzna Siap, 1.200 Tenaga Medis Dikerahkan
Tijjani Reijnders, Gelandang Manchester City, Ucapkan Selamat atas Hat-trick Gelar Persib Bandung
Polri Kirim Tim ke Lokasi Putusnya Sutet di Jambi Usai Padam Listrik Massal di Sumatera
Siloam Oncology Summit 2026: 700 Tenaga Kesehatan Kuasai Teknik Baru Penanganan Kanker